Maka saya kaget juga, beras atau padi kita semuanya dari luar Balikpapan

Balikpapan (ANTARA) - Wakil Wali Kota Balikpapan Bagus Susetyo memaparkan sejumlah strategi Pemerintah Kota dalam menjaga stabilitas harga dan mengendalikan inflasi, termasuk memperkuat ketahanan pangan lokal dan meningkatkan infrastruktur pendukung distribusi bahan pokok.

“Maka saya kaget juga, beras atau padi kita semuanya dari luar Balikpapan,” kata Bagus, Minggu (29/6).

Ia menjelaskan bahwa Balikpapan masih menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan beras secara mandiri karena terbatasnya lahan pertanian.

Saat ini, katanya, kawasan pertanian hanya terdapat di wilayah Balikpapan Timur, itu pun belum dikelola secara optimal karena keterbatasan irigasi dan belum tersedianya jalan usaha tani.

Menurutnya pembangunan jalan usaha tani baru akan mulai diprogramkan pada 2025. Selain Balikpapan Timur, juga  adan potensi kawasan gambut di Balikpapan Utara yang dapat dikembangkan untuk pertanian padi melalui cetak sawah baru.

“Nanti kita coba komunikasikan, apakah dimungkinkan kita melakukan cetakan sawah di Balikpapan Utara,” ujarnya.

Bagus menyebutkan inflasi Balikpapan pada Mei 2025 berada pada angka 1,01 persen. Capaian itu dinilai cukup baik, meski masih terdapat risiko ke depan seperti perubahan cuaca ekstrem dan gangguan distribusi selama masa libur panjang.

“Lonjakan permintaan tiket pesawat pada libur sekolah dan hari besar keagamaan menjadi salah satu pemicu inflasi,” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan perlunya inovasi dalam menjaga pasokan komoditas hortikultura, terutama cabai, yang rentan mengalami kenaikan harga karena keterbatasan masa simpan.

Menurutnya, penyimpanan cabai saat ini hanya bisa bertahan maksimal satu minggu sebelum kualitasnya menurun.

“Mudah-mudahan nantinya hortikultura bisa disimpan dalam waktu enam bulan,” katanya, merujuk pada rencana penggunaan fasilitas penyimpanan pendingin atmosfer terkendali atau cool storage atmosphere.

Pemerintah Kota Balikpapan, kata dia, tengah mempertimbangkan pembangunan infrastruktur penyimpanan tersebut agar komoditas hortikultura tidak cepat rusak dan dapat menekan fluktuasi harga.

Selain memperkuat sisi pasokan, Pemkot Balikpapan juga berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Pertamina dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), dalam upaya meningkatkan ketahanan energi rumah tangga melalui jaringan gas rumah tangga atau jargas.

“Apakah kita bisa KPBU, karena sumber gas kita ada. Kalau mungkin, nanti kita coba minta difasilitasi Gubernur agar seluruh kabupaten/kota penghasil gas di Kaltim bisa jadi prioritas investasi jargas,” ujar Bagus.

Ia menambahkan Pemkot Balikpapan juga menjajaki kerja sama antarwilayah di Kalimantan Timur, seperti Balikpapan, PPU, dan Paser, untuk mendukung pengembangan jaringan gas regional.

Tahapan selanjutnya adalah melakukan kajian akademik untuk melihat sejauh mana hal tersebut dapat direalisasikan.

Bagus juga menyoroti masih terbatasnya produksi hortikultura skala besar di Balikpapan. Saat ini, sebagian besar pasokan tomat, wortel, hingga kentang masih didatangkan dari luar daerah, terutama dari Jawa Timur.

Menurut Bagus, hal ini membuat Kota Balikpapan sangat tergantung pada kelancaran distribusi antar pulau.

“Alhamdulillah untuk distribusi yang menggunakan kapal antar pulau masih terkendali. Tidak sampai mengalami ombak besar, sehingga masih bisa diterima secara rutin dan menjaga angka inflasi kita,” jelasnya.

Meski komoditas cabai tidak lagi menjadi penyumbang utama inflasi saat ini, Pemkot tetap mendorong edukasi kepada masyarakat untuk menggunakan alternatif cabai saat harga melonjak, sebagai bagian dari strategi jangka pendek pengendalian harga.

Pemerintah juga menekankan pentingnya peran TPID dalam menyusun kebijakan pengendalian inflasi berbasis data, serta memperkuat sinergi lintas sektor, baik dengan pelaku usaha, petani, distributor, maupun lembaga keuangan.

“Inflasi terkendali bukan berarti kita boleh lengah. Tantangan ke depan bisa datang dari banyak sisi misalnya perubahan iklim, distribusi, atau gejolak harga global. Maka strategi kita harus menyentuh semua sektor,” pungkas Bagus. (Adv).



Pewarta: Muhammad Solih Januar
Editor : Rahmad

COPYRIGHT © ANTARA 2026