Melalui kemudahan dan fleksibilitas akses tersebut, literasi keuangan terus ditingkatkan agar masyarakat luas dapat membangun portofolio investasi secara disiplin demi kestabilan ekonomi di masa depan
Samarinda (ANTARA) - Kondisi ketidakpastian geopolitik global yang diproyeksikan terus berlangsung sepanjang tahun 2026 memacu para investor untuk lebih selektif dengan menjadikan emas sebagai instrumen perlindungan nilai kekayaan.
"Dalam kondisi global yang penuh ketidakpastian, emas semakin dipandang sebagai alat proteksi nilai investasi jangka panjang," kata Digital Business & Product Management Division Head Bank Mega Syariah Benadicto Alvonzo Ferary di Samarinda, Selasa.
Ia menjelaskan bahwa logam mulia ini memiliki karakteristik yang unggul untuk menahan tekanan inflasi serta menghadapi volatilitas pasar keuangan yang tidak menentu.
Berdasarkan laporan World Gold Council, bank sentral di berbagai negara bahkan telah memborong lebih dari 1.000 ton emas per tahun yang menjadi rekor permintaan tertinggi dalam sejarah.
"Tren peralihan menuju investasi defensif ini juga sejalan dengan perilaku ekonomi masyarakat di Tanah Air yang semakin sadar akan pentingnya diversifikasi aset," papar Benadicto.
Merujuk pada survei Populix edisi Januari 2026, instrumen emas mendominasi tingkat kepercayaan publik hingga 80 persen, meninggalkan jauh aset lain seperti properti dan uang tunai.
Menyikapi tingginya kesadaran finansial tersebut, perbankan berupaya memperluas akses kepemilikan logam mulia guna mengedukasi masyarakat melalui skema pembiayaan yang lebih terjangkau.
Langkah ini diwujudkan salah satunya oleh Bank Mega Syariah yang memfasilitasi masyarakat untuk memiliki emas 24 karat secara bertahap lewat program Flexi Gold.
Pembiayaan yang dirancang sesuai dengan prinsip dan fatwa dewan pengawas syariah ini mencatatkan lonjakan penyaluran pembiayaan hingga 756 persen pada kuartal pertama tahun 2026.
Minat tertinggi terhadap kepemilikan emas bertahap tersebut terpusat pada kawasan aglomerasi, di mana warga Jakarta menyumbang kontribusi terbesar mencapai 41,79 persen dari total transaksi nasional.
"Melalui kemudahan dan fleksibilitas akses tersebut, literasi keuangan terus ditingkatkan agar masyarakat luas dapat membangun portofolio investasi secara disiplin demi kestabilan ekonomi di masa depan," demikian Benadicto.
Baca juga: Harga emas melonjak satu persen akibat konflik Timur Tengah
Pewarta: Ahmad RifandiEditor : Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2026