“Kondisi petani organik masih memprihatinkan sebab kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah. Padahal di sejumlah daerah berkembang menjadi salah satu sektor andalan. Karena selain menyehatkan juga terbukti mampu memajukan perekonomian masyarakat,†kata Qomariyah.
Menurutnya, tingginya harga tanaman pangan organik disebabkan biaya perawatan yang cukup tinggi dibandingkan dengan non-organik. Ini disebabkan para petani harus berjuang sendiri mulai dari pembibitan, perawatan hingga pemasaran ke tangan konsumen.
Belum lagi ditambah perubahan iklim dunia yang tidak menentu menambah besar potensi resiko kegagalan panen petani organik. Gagal panen membuat petani tidak hanya merugi melainkan juga harus kehilangan modal untuk mendapatkan bibit baru.
“Jangan hanya sawit dan karet yang telah lebih dulu populer diperhatikan, akan tetapi pemerintah harus melihat pula potensi-potensi besar lainnya yang dapat menunjang perekonomian Kaltim pada masa depan kala sektor pertambangan tidak lagi mampu memberikan kontribusi bagi daerah,†tutur Qamay –sapaan akrabnya.
Politikus asal PAN itu menyarankan pemerintah harus tanggap dan mampu membantu tumbuh kembang para petani organik dengan memberikan perhatian sehingga sektor pertanian dalam arti luas benar-benar mampu menjadi sebagaimana yang diharapkan.
Qamay mencontohkan pemerintah bisa mengalihkan lahan-lahan pertambangan menjadi daerah pertanian termasuk organik. Di samping itu bantuan berupa modal dengan syarat yang mudah serta sejumlah bibit tentu menjadi harapan para petani organik.
“Komitmen memajukan dunia pendidikan dan pertanian dalam arti luas terus ditingkatkan dan diwujudkan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kaltim yang terus meningkat tiap tahunnya. Jadi dewan dan pemerintah akan terus berupaya hingga kejayaan pertanian dan pendidikan sebagai kebutuhan dasar pembangunan, di samping sektor lainnya, mampu terwujud,†harap Qamay. (Humas DPRD kaltim/adv/bar/met)
Editor : Rahmad
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.