Anggota Komisi IV DPRD Kaltim Zain Taufik Nurrohman menyatakan sepakat dengan kebijakan pemerintah mengenai penyederhanan ini, karena untuk SD baiknya memang diajarkan ha-hal bersifat mendasar, karena masih pada tahap pembentukan karakter.
“Saya setuju dengan keputusan pemerintah dengan lebih menyederhanakan mata pelajaran untuk sekolah dasar, agar anak bisa fokus dengan mata pelajaran dasarnya seperti membaca, menulis dan berhitung dibungkus dengan pelajaran akhlak budi pekerti yang bisa didapati di pelajaran Agama,†tutur Ketua Fraksi PAN ini.
Diwartakan secara nasional, mata pelajaran untuk anak SD yang semula berjumlah 10 mata pelajaran dipadatkan menjadi enam mata pelajaran, yaitu Agama, PPKn, Matematika, Bahasa Indonesia, Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, serta Seni Budaya dalam kurikulum baru ini. Sementara empat mata pelajaran yang dulu berdiri sendiri, yaitu IPA, IPS, muatan lokal, dan pengembangan diri, diintegrasikan dengan enam mata pelajaran lainnya.
Jenjang SMP, beberap mata pelajaran (maple) juga dihapus, misalnya Biologi dan Fisika akan menjadi satu dalam mapel IPA. Sedangkan, Geografi dan Sejarah juga akan melebur menjadi IPS. Selama ini IPA dan IPS pada jenjang SMP disusun berlapis, namun terasa tidak efektif. Pada kurikulum baru ini akan menjadi satu.
Namun, SDM guru pada mapel tersebut tetap pengajar IPA atau IPS, tetapi sebelumnya mendapat pelatihan untuk mengajar mapel tersebut sesuai arahan Mendikbud beberapa waktu lalu.
“Apa yang dilakukan pemerintah, sudah melalui perhitungan panjuang dan matang. Tujuannya satu agar dunia pendidikan kita bias semakin maju. Jadi, tak ada alasan bagi kita semua untuk tidak mendukungnya,†papar zain.
Politisi dari darah pemilihan IV : Bontang, Kutim dab Berau ini menambahkan dengan penyusutan mata pelajaran itu sangat meringankan beban anak. “Mata pelajaran memang sudah seharusnya menyesuaikan dengan kebutuhan pendidikan sang anak, jika itu dengan pengurangan pelajaran tentu kita dukung asal benar-benar bisa dipertanggungjawabkan keberhasilan pengajarannya,†urainya. (dit/dhi)
Editor : Rahmad
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.