... baru sekitar 25 persen peternak lokal mampu mencukupi kebutuhan sapi, selebihnya yang mencapai 40.000 ekor per tahun, masih didatangkan dari daerah lain, baik dari Jawa, Sulawesi, maupun NTB
Samarinda, 6/6 (Antara) - Dinas Peternakan Propvinsi Kalimantan Timur pada 2013 menggulirkan program pengembangan Village Breeding Center (VBC) atau pusat pembibitan ternak sebanyak 70 ekor sapi dan kerbau untuk dua kelompok petani peternak di Kabupaten Kutai Kartanegara.

"Total dana yang dianggarakan dari APBD Kaltim 2013 untuk pengembangan VBC sapi maupun kerbau dalam program ini sebesar Rp563 juta," ujar Kepala Dinas Peternakan Kalimantan Timur (Kaltim) Dadang Sudarya di Samarinda, Kamis.

Village Breeding Center (VBC) adalah suatu kawasan pengembangan peternakan yang berbasis pada usaha pembibitan ternak rakyat yang tergabung dalam kelompok peternak pembibit.

Dana sebesar itu, Kata Dadang Sudarya, untuk pengadaan dan pengembangan VBC sapi bagi satu kelompok yang akan mendapat 40 ekor dengan anggaran yang disiapkan sebesar Rp308 juta.

Selanjutnya untuk pengadaan dan pengembangan VBC kerbau sebanyak 30 ekor bagi satu kelompok. Anggaran yang digunakan untuk program ini dialokasikan Rp255 juta.

Menurut dia, Pemprov Kaltim dalam menerapkan program VBC itu dimaksudkan untuk mempercepat pengembangan kawasan ternak baik sapi maupun erbau di kawasan perdesaan.

"Tujuannya adalah agar diperoleh bibit sapi yang lebih unggul supaya dapat produktif atau cepat melahirkan, dengan harapan agar populasi sapi di Kaltim cepat meningkat," katanya.

Dalam pendistribusian 70 ekor kerbau dan sapi untuk VBC tesebut, jumlah yang disalurkan lebih banyak betina ketimbang yang jantan, yakni agar para betina cepat bunting dan menghasilkan bibit unggul yang juga diharapkan cepat bunting.

Saat ini, katanya, populasi sapi di Kaltim baru sekitar 108.000 ekor. Dari jumlah itu, baru sekitar 10.000 ekor yang bisa dipotong setiap tahun, padahal tingkat kebutuhan konsumsi daging bagi masyarakat Kaltim mencapai 50.000 ekor per tahun.

"Ini berarti, baru sekitar 25 persen peternak lokal mampu mencukupi kebutuhan sapi setempat, sementara selebihnya yang mencapai 40.000 ekor per tahun, masih didatangkan dari daerah lain, baik dari Jawa, Sulawesi, maupun Nusa Tenggara Barat," katanya.

Berkaitan dengan itu, maka pihaknya terus berupaya untuk meningkatkan pupulasi sapi, baik melalui program pembibitan, penggemukkan, maupun program VBC.

Usaha lain yang ditempuh untuk meningkatkan populasi sapi maupun kerbau adalah, melakukan perbaikan mutu genetik kerbau Krayan di Kabupaten Nunukan sebanyak 60 ekor. Kegiatan ini dimaksudkan agar populasi dan kualitas kerbau Krayan semakin meningkat.

Selain itu, pihaknya juga terus melakukan inseminasi buatan, yakni proses peletakkan sperma dari satu sapi jantan ke dalam uterus beberapa sapi betina agar tingkat kehamilan di suatu peternakan dapat lebih cepat meskipun di kawasan itu hanya ada satu pejantan. (*)

Pewarta: M Ghofar
Editor : Arief Mujayatno

COPYRIGHT © ANTARA 2026