"Kami terus melakukan berbagai kegiatan sosialisasi melalui seminar sebagai upaya menangkal prilaku seks bebas di kalangan pelajar baik di sekolah maupun di kampung," kata Kepala KPPKB Berau, Hj Wiyati SE, Rabu.
Melalui seminar seperti itu kata Wiyati diharapkan dapat menambah pengetahuan para remaja, tentang resiko hubungan seks pada umur yang belum siap reproduksi serta bagaimana pergaulan yang baik dan menjaga etika pergaulan.
Kurangnya pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi kata dia menjadi salah satu penyebab terjadinya hubungan seks bebas.
"Ini berdampak pada kehamilan yang tidak diinginkan, atau berujung dengan pernikahan dini," kata Wiyati.
Pernikahan yang tidak dipersiapkan secara matang sangat rentan terhadap kasus perceraian, akibat kejiwaan mereka masih labil dan belum siap membina rumah tangga, katanya.
Ketidakpahaman remaja tentang seks, lanjut Wiyati, merupakan sebuah faktor menunjang seks bebas.
"Hal lain ditawarkan hanya sebatas komoditi, seperti media-media yang menyajikan hal-hal yang bersifat pornografi, termasuk melalui internet," ujarnya.
Bahkan, tayangan televisi pun saat ini sudah mengarah kepada hal yang seperti itu," tambahnya.
Dampak dari ketidakpahaman remaja, tentang pendidikan seks ini kata Wiyati menyebabkan banyak hal negatif yang terjadi, seperti tingginya hubungan seks di luar nikah, kehamilan yang tidak diinginkan, penularan virus HIV dan sebagainya.
"Kalau sudah terjadi seperti itu yang ada adalah penyesalan seumur hidup," tegasnya.
Agar terhindar dari prilaku seks bebas, para remaja perlu mempunyai konsep diri yang positif, selektif terhadap pengaruh lingkungan, mengisi aktivitas waktu luang yang positif, memilih teman pergaulan yang tepat, menetapkan tujuan masa depan, mengelola waktu dengan disiplin. (*)
Pewarta: Helda MildianaEditor : Arief Mujayatno
COPYRIGHT © ANTARA 2026