Seluruh unsur masyarakat harus selalu meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit tuberkulosis (Tb) dengan menerapkan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari

Berau, Kaltim (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Berau, Kalimantan Timur memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak untuk mewujudkan eliminasi tuberkulosis pada 2030, sehingga bukan hanya pemerintah yang bergerak, tapi juga elemen masyarakat, kader, tokoh, swasta, hingga desa/kelurahan.

"Seluruh unsur masyarakat harus selalu meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit tuberkulosis (Tb) dengan menerapkan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari," ujar Bupati Berau Sri Juniarsih Mas di Tanjung Redeb, Ahad.

Hal ini penting agar jumlah penyakit tersebut terus menurun. Sementara berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), pada 2025 jumlah kasus penyakit - angka penemuan Tb di Kabupaten Berau sebesar 47,5 persen.

Angka penemuan kasus Tb di Kabupaten Berau adalah 47,5 per 100.000 penduduk, menempatkan Berau di urutan ke-6 tertinggi di Kaltim, di bawah Kutai Barat (49,3) dan di atas Kabupaten Paser (41,0).

Namun Berau mencatat prestasi baik dalam hal pengobatan, yakni pada 2025 tingkat keberhasilan pengobatan Tb di Berau mencapai 90,8 persen, yang merupakan angka tertinggi dibandingkan daerah lain di Kaltim dan jauh di atas rata-rata provinsi yang sebesar 77,15 persen.

"Meski demikian, kewaspadaan harus terus ditingkatkan. Mari kita bersama-sama dan saling menjaga dari penyakit tuberkulosis dengan menerapkan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari sebagai upaya pencegahan," ujarnya.

Sementara Ketua Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) Kabupaten Berau Sri Aslinda Gamalis, menegaskan bahwa keberhasilan penanggulangan TBC tidak dapat dilakukan oleh sektor kesehatan saja.

"Dibutuhkan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, kader, tokoh masyarakat, lintas sektor, pihak swasta, hingga keluarga pasien," kata Aslinda.

Ia mengakui bahwa masih terdapat tantangan dalam penanganan Tb, antara lain penemuan kasus yang belum optimal, kepatuhan pengobatan yang perlu ditingkatkan, serta stigma yang masih melekat di masyarakat seperti penyakit bawaan dan penyakit kelas bawah, padahal siapapun bisa terserang penyakit ini jika tidak menerapkan hidup sehat.

"Stigma ini juga kerap menjadi penghambat, termasuk kemauan penderita yang harus memeriksakan diri dan menjalani pengobatan terus menerus, tanpa henti selama enam bulan," katanya.

Saat PPTI dan Dinas Kesehatan Berau menggelar Seminar Kesehatan di Bapelitbang Berau, pekan ini, Aslinda juga menyatakan bahwa seminar tersebut menjadi wujud komitmen bersama dalam menuntaskan tuberkulosis.

"Kami mengajak masyarakat berperan aktif dalam penanggulangan Tb, di antaranya tidak takut melakukan pemeriksaan apabila mengalami gejala. Kader dan tenaga kesehatan pun harus aktif mendeteksi kasus secara dini serta pendampingan pengobatan," ucap dia.



Pewarta: M.Ghofar
Editor : Rahmad

COPYRIGHT © ANTARA 2026