"Namun, Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan (DPPKK) Berau Berau tetap optimistis pada akhir Desember 2012 retribusi galian C ini bisa mencapai target," kata Kepala DPPKK Berau, Hery Mujiantono, Sabtu.
"Semua pengusaha galian C ini sudah mau memenuhi kewajibannya, yakni membayar retribusi untuk mendongkrak PAD Berau," tambah Hery Mujiantono dan menyebut, soal pembayaran retribusi ini beberapa waktu lalu mengalami kesalahan teknis.
"Nama pemilik galian C dan nama penambanganya berbeda jadi kami tidak mau menerima. Setelah semua diluruskan akhirnya semua mau membayar, karena memang telah diatur melalui perda," jelasnya.
Hery menambahkan, pencapaian Rp427 juta lebih itu terhitung hingga akhir November dan untuk Desember 2012 belum terhitung semua.
"Tapi kalau dihitung hingga sampai saat ini , PAD retribusi galian C ini sudah mencapai sekitar Rp600 jutaan," katanya.
Nanti, kata Hery, pada umumnya pelunasan pembayaran retribusi galian C ini pada akhir tahun karena para pengusaha galian C ini merasa takut terkena sanksi atau denda, sesuai yang diatur Perda.
Ditegaskan Hery, untuk melakukan penagihan retribusi galian C yang dilakukan oleh warga dari luar Kabupaten Berau, pihaknya akan menurunkan tim khusus.
Tetapi jika tagihan tersebut tidak terlalu besar, maka pihaknya menggunakan cara melayangkan surat pemberitahuan.
"Jadi harus dilakukan seperti itu sebab jangan sampai nanti tagihannya tidak seberapa tapi menurunkan tim yang tentunya tidak sebanding dengan dana operasional," tuturnya.
Retribusi galian C lanjut Hery tidak terlalu besar, yakni dalam satu 'ret' hanya Rp1200.
"Jadi, sangat ironis sekali jika seorang pengusaha jika tidak mau atau tidak mampu membayar retribusi tersebut," tegas Hery.
Untuk itu dia menghimbau kepada para pengusaha galian C mentaati Perda tentang retribusi tersebut sebagai payung hukum Pemkab Berau, untuk memungut retribusi galian C tersebut.
"PAD ini jelas\ dari masyarakat dan hasilnya juga untuk masyarakat," tegasnya. (*)
Pewarta: Helda Mildiana: Amirullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.