Ekonomi bukan hanya milik mereka yang duduk di kantor ber-AC. Tapi  milik setiap orang yang bekerja, berusaha, dan bermimpi

Yogyakarta (ANTARA) - Malioboro yang siang itu sejuk, bukan sekadar nama jalan yang membelah jantung Yogyakarta. Antara deru sepeda motor yang melintas pelan, tawa pedagang yang  bercanda dengan penjual, dan bayangan pohon mahoni yang menari di atas aspal, banyak cerita yang bisa digambarkan. 

Di situ ada bisik lembaran takdir penghubung dua pulau yang tampak jauh berbeda, tanah Jawa yang memeluk erat tradisi, lantas Kalimantan Timur (Kaltim) yang menyimpan hutan, tambang, serta impian masa depan bangsa.
 
Di ruang pertemuan yang berhawa sejuk, di salah satu hotel yang memancarkan kelembutan tembang Jogja, Deputi Kepala Bank Indonesia Provinsi Kaltim Bayuadi Hardiyanto, duduk tenang di hadapan puluhan wartawan yang datang dari seantero Bumi Etam. 

Tangannya memegang naskah yang bukan sekadar deretan angka dan grafik, melainkan peta aktivitas ekonomi dan perjalanan kehidupan jutaan jiwa. 

Setiap baris yang dibaca dan dianalisa merupakan napas yang berhembus dari hutan penyerap polutan, dari kilang yang menyala di tepi laut, dari ladang padi yang menguning, dan dari rumah-rumah sederhana tempat keluarga berharap hari esok lebih baik.

17 September 2026 menjadi hari penting, Malioboro menyaksikan bukan sekadar pelatihan jurnalistik, tapi juga kisah tentang kekuatan ekonomi yang tak terpisahkan dari rasa, dari kemanusiaan, dari harapan yang sama tingginya dengan pohon-pohon ulin Kalimantan. 

Inilah kisah tentang timur Kalimantan, tentang bagaimana ia tumbuh, bagaimana ia menjaga keseimbangan, dan ke mana arah langkahnya menuju masa depan lebih cerah.

Dunia tak pernah berhenti berputar. Api konflik masih menyala, memanaskan udara yang sulit didinginkan. Harga energi naik turun seperti ombak yang tak kenal tenang, rantai perdagangan yang dulu mulus kini berliku penuh kerikil dan ketidakpastian.
 
Di tengah riuh ini, Indonesia berdiri tegak. Pada triwulan II tahun 2026, perekonomian bangsa tumbuh sebesar 5,29 persen, melanjutkan langkah kokoh dari periode sebelumnya. 

Industri pengolahan, perdagangan, dan konstruksi menjadi pilar yang menopang langkah ini, meski pertanian melambat dan pertambangan masih menahan diri. 

Di antara pulau-pulau yang membentang dari Sabang sampai Merauke, Kalimantan memegang peran penting, dengan pangsa ekonomi mencapai 8,15 persen. Sementara Kaltim, sang jantung yang memompa paling kuat, terus berdenyut, membawa beban sekaligus berkah.

Kaltim tumbuh 3,35 persen pada periode itu. Angka ini memang lebih rendah dari rata-rata nasional, namun ia lahir dari perjuangan yang nyata. 
Pertambangan yang sempat terhenti perlahan kembali bernapas, tumbuh 1,43 persen seiring disahkannya rencana kerja dan peningkatan permintaan dari negara-negara sahabat. 

Ekspor kembali bangkit, naik 6,72 persen, membawa pulang harapan bagi ribuan keluarga yang hidup dari hasil bumi. Meski industri pengolahan hanya tumbuh 2,28 persen, dan konstruksi melambat menjadi 2,79 persen, langkah ini tetap menuju depan penuh hati-hati menata fondasi agar tak mudah runtuh.
 
Dari sisi kebutuhan rakyat, cerita pun berwarna. Konsumsi rumah tangga tumbuh 4,07 persen didorong libur sekolah, tunjangan hari raya, dan bantuan sosial yang menjaga daya beli tetap terjaga. 

Investasi tetap mengalir meski pelan, seiring proyek-proyek besar yang menuju tahap penyelesaian. Pemerintah pun berhemat, menyesuaikan langkah agar tetap kokoh. 

Di setiap angka itu, tersimpan wajah petani sawit yang menunggu harga panen naik, pekerja tambang yang pulang ke rumah dengan lelah sekaligus syukur, pedagang pasar yang menyapa pembeli. Ekonomi Kaltim bukan sekadar angka laporan, namun denyut nadi jutaan jiwa yang bekerja, berdoa, dan bertahan.

Di Yogyakarta, Bayuadi menyampaikan ini bukan sebagai statistik, melainkan sebagai penghormatan. Ekonomi bukan soal uang semata, namun cermin dari kehidupan  Jika ia tumbuh, maka ada harapan yang tumbuh bersama. 
 
Menjaga harga
 
Langit Kaltim pada 2026 tampak lebih terik dari biasanya. El Nino menyapa, memanjangkan musim kemarau, mengeringkan anak cucu sungai, dan menahan hujan turun tipis. 

Dampaknya terasa di pasar-pasar. Daging ayam ras, cabai merah, cabai rawit, harganya bergerak naik, didorong pasokan yang terbatasi oleh cuaca tak bersahabat. 

Pada Agustus 2026, inflasi tahunan Kaltim mencapai 3,83 persen, sedikit di atas rata-rata nasional, didorong kelompok makanan, minuman, dan tembakau, serta pendidikan yang menyambut tahun ajaran baru.
 
Namun, Kaltim tak membiarkan harga melonjak tanpa pegangan. Di setiap kabupaten dan kota, tim pengendalian inflasi bekerja tanpa lelah. Di Penajam Paser Utara, inflasi bulanan sempat menyentuh 0,52 persen, tertinggi di wilayah itu, sementara di Berau 0,46 persen, Samarinda 0,06 persen. 

Hanya Balikpapan yang mencatat penurunan kecil, sebesar 0,03 persen. Angka-angka ini bukan sekadar catatan. Itu adalah peta tantangan yang dijawab dengan kerja sama.
 
Gerakan Pangan Murah digelar ratusan kali. Sepanjang Januari-Juni 2026 sudah tercatat 305 kali dengan membawa beras, minyak goreng, gula, dan cabai lebih dekat ke rakyat dengan harga yang terjangkau. 

Bank Indonesia tak berdiri sendiri, namun berdampingan dengan pemerintah daerah, menyusun strategi, membangun kerja sama antardaerah, mendukung pertanian dengan teknologi digital, dan memperkuat lahan pertanian pangan berkelanjutan. 

Padi ditanam di lahan baru seluas 1.890 hektare, petani dilatih dengan cara-cara baru, dan konektivitas diperbaiki agar hasil bumi tak tertahan di jalanan berlubang.
 
Ada kekhawatiran?, tentu. Jika harga energi terus naik, biaya logistik ikut membengkak, dan beban itu jatuh ke pundak warga. Jika cuaca kering berlanjut, pohon sawit akan kesulitan berbuah, dan pendapatan pekebun ikut menyusut. Jika rupiah melemah, barang impor menjadi mahal. 

Namun harapan selalu membentang. Produksi batu bara meningkat, kilang minyak beroperasi lebih maksimal, program Makan Bergizi Gratis menyentuh anak-anak hingga desa, dan Ibu Kota Nusantara (IKN) makin tumbuh menjadi pusat kehidupan baru.
 
Bayuadi menyampaikan ini dengan nada tenang, seolah membacakan puisi tentang ketabahan. Manusia tidak bisa mengatur hujan, tapi bisa menyiapkan payung, menanam pohon yang tahan kekeringan, dan berbagi makanan agar tak ada yang kelaparan. Itulah ekonomi sejati, saling menjaga.

Menyapa masa depan
 
Bumi Kaltim memandang ke depan dengan mata yang terbuka lebar. Ia tahu peluangnya, namun juga tak menutup mata terhadap risikonya. 

Di sisi peluang, produksi batu bara dapat bertambah jika kuota diperluas, kilang minyak Balikpapan beroperasi lebih cepat dari rencana, permintaan sawit terus tumbuh, dan IKN serta kawasan industri baru menjadi magnet investasi yang membawa lapangan kerja. 

Di sisi tantangan, kuota produksi yang terbatas, biaya energi yang naik, cuaca yang tak menentu, dan ketidakpastian perekonomian dunia. Namun Kaltim tak berdiri diam. Sistem pembayaran digital terus meluas.

Hingga triwulan II 2026, pengguna QRIS mencapai 948,3 ribu orang, dan pedagang yang bergabung menjadi 910,7 ribu. Uang tak lagi hanya berupa kertas yang berpindah tangan, melainkan sinyal yang mengalir cepat, menyatukan desa dan kota, memudahkan transaksi, dan membuka peluang bagi siapa saja yang ingin berusaha.
 
Penyaluran kredit tumbuh pesat, 22,8 persen triwulan II 2026, mencapai Rp223 triliun. Pertambangan memimpin pertumbuhan kredit dengan 63,5 persen, diikuti industri pengolahan 43,7 persen. 

Kualitas kredit tetap terjaga baik, dengan tingkat macet hanya 1,35 persen, bukti bahwa kepercayaan masih menjadi mata uang yang paling berharga. Kredit mengalir ke seluruh kabupaten seperti Berau tumbuh 45,2 persen, Kutai Barat 44,56 persen, Kutai Timur 9,54 persen. 

Sementara Kota Samarinda dan Balikpapan tetap menjadi pusat, namun daerah-daerah lain ikut tumbuh, membawa kemakmuran lebih merata.
 
Di Malioboro, ketika matahari mulai meninggi dan cahayanya menembus jendela ruangan, Bayuadi menutup penyampaiannya dengan kata-kata yang terukir dalam ingatan setiap pendengar.

"Ekonomi bukan hanya milik mereka yang duduk di kantor ber-AC. Tapi  milik setiap orang yang bekerja, berusaha, dan bermimpi. Kalimantan Timur tumbuh bukan karena grafik di atas kertas, melainkan karena tangan-tangan warga yang tak kenal lelah," ujarnya. 
 
Puluhan wartawan yang hadir menyadari bahwa tugas mereka ke depan bukan sekadar melaporkan angka. Mereka adalah penyambung lidah, menceritakan bagaimana pertumbuhan itu terasa bagi warga desa, bagaimana harga pangan menyentuh dapur keluarga, bagaimana kemajuan digital menjangkau tempat-tempat yang dulu terasing. 

Mereka akan pulang membawa pesan bahwa di Kaltim, di balik setiap angka, ada nyawa yang berjuang, ada harapan yang dijaga, dan ada masa depan yang sedang dibangun bersama.

Udara di Malioboro masih sejuk, sama seperti hati warga Kaltim yang tenang memutar roda kehidupan. Sore itu, jalan yang membelah Jogja mulai dipadati pejalan kaki, sama seperti jalan di desa-desa Borneo yang dipenuhi langkah pulang kerja. Dua tempat yang jauh, namun terhubung oleh satu denyut: semangat untuk membangun negeri yang lebih baik, lebih adil, lebih hangat.
 
Kaltim tak menjanjikan jalan yang selalu rata. Namun rakyat berjanji tak berhenti melangkah, diimbangi hati terbuka, langkah kokoh, dan keyakinan bahwa kemakmuran sejati adalah ketika tak ada yang tertinggal. Di bawah sinar matahari yang sama, di bawah langit yang sama, semua berjalan menuju satu arah: masa depan yang memeluk setiap anak bangsa, tanpa terkecuali.



Editor : Rahmad

COPYRIGHT © ANTARA 2026