Ujoh Bilang (Antaranews Kaltim) - Kampung Long Melaham di Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), Kalimantan Timur, mulai melakukan konsultasi dengan Tenaga Teknis Program Gerbangmas Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Kampung Mandiri (P2MKM).

"Kedatangan kami ke sini karena ada beberapa hal yang ingin kami konsultasikan, seperti masalah pertanggungjawaban penggunaan anggaran tahun 2018 dan tentang Badan Usaha Milik Kampung (BUMKam)," ujar Kepala Kampung Long Melaham, Awang Nyangun di Ujoh Bilang, Senin.

Ia melanjutkan bahwa BUMKam di Long Melaham sudah lama terbentuk, namun untuk pengembangan usaha masih belum bisa berjalan karena masih mengidentifikasi potensi, seperti pengelolaan sampah, usaha sembilan bahan pokok, dan pertanian dalam arti luas.

Untuk itu, kedatangannya bersama beberapa aparatur kampung, pengurus BUMKam, termasuk Ketua Badan Permusyawaratan Kampung (BPK) setempat untuk berkonsultasi dengan Tim Teknis Gerbangmas - P2MKM ini, diharapkan mendapat masukan untuk modal keyakinan pengurus BUMKam dalam mengembangkan unit usaha.

Menanggapi hal itu, salah seorang Tenaga Teknis Gerbangmas - P2MKM Kabupaten Mahakam Ulu, Imam Subarkah mengatakan, pada dasarnya jenis usaha yang akan dijalankan tersebut sudah benar sepanjang sudah melalui kajian baik mengenai potensi, keuntungan, kemungkinan hambatan, dan kajian lainnya.

"Ada satu lagi potensi yang saya lihat bisa dijalankan di Long Melaham karena saya perhatikan banyak pohon karet produktif di sana. Saya dengan Pak Ghofar sudah ke pabrik karet di Samarinda dan harganya masih bagus, maka BUMKam bisa mengambil peluang ini, nanti kami yang memfasilitasi untuk pengiriman karet sampai ke pabriknya," ucap Imam.

Sedangkan untuk pembiayaan tiap unit usaha yang akan dijalankan, lanjutnya, maka pengurus BUMKam harus membuat proposal untuk kepala kampung yang berisi tentang rancangan usaha yang matang, sehingga kepala kampung dan Ketua BPK yang aka menelaah layak atau tidaknya usaha dari proposal yang diajukan tersebut.

Sedangkan untuk pekerjaan fisik yang anggarannya berasal dari tahun 2018, Imam menyarankan kepada mereka segera menghentikan pekerjaan karena sudah melewati batas anggaran, walaupun dana tersebut baru cair akhir-akhir Desember yang berdampak pada molornya pekerjaan hingga Januari 2019.

Kalau sekarang masih mengerjakan dari anggaran 2018, kata Imam, jelas ini tidak benar, jadi hentikan saja pekerjaan yang ada, kemudian uangnya masukkan di sisa lebih perencanaan anggaran (silpa) karena per 31 Desember harusnya sudah tutup.

"Sejak tutup buku 31 Desember, segera membuat laporan pertanggungjawaban penggunaan anggaran tahun 2018 dan menyatakan masih ada silpa. Kemudian dari silpa ini dianggarkan ulang di tahun ini untuk meneruskan pekerjaan yang tertunda, atau masuk dalam pekerjaan lanjutan," kata Imam. (*)

 

Pewarta: M.Ghofar

Editor : Rahmad


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Timur 2019