Pemerintah Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, mengarahkan pelestarian sejarah dalam pembangunan Kecamatan Gunung Tabur, karena kawasan ini berciri kesultanan, memiliki latar belakang kerajaan yang terbentuk awal abad 19 dengan sejarah panjang dan segala daya tariknya.
Setiap kecamatan memiliki keunggulan tersendiri dengan potensi masing-masing. Termasuk Kecamatan Gunung Tabur yang masih melestarikan peninggalan sejarah. Tradisi kesultanan masih terjaga sebagai pelestarian tradisi, budaya, dan adat istiadat.
"Pemkab Berau komitmen melakukan pembangunan Gunung Tabur agar lebih maju tahun ini, dengan pembangunan mencakup sektor pelestarian sejarah, ekonomi kreatif dan UMKM, pelayanan dasar hingga infrastruktur dasar," ujar Bupati Berau Sri Juniarsih Mas di Tanjung Redeb, Jumat.
Kesultanan Gunung Tabur dibentuk akibat pemecahan Kesultanan Berau, yakni Raja Berau ke- 9 Aji Dilayas memiliki dua permaisuri yang putranya berselisih tahta, sehingga kerajaan dibagi menjadi dua, yaitu Gunung Tabur dan Sambaliung.
Kesultanan Gunung Tabur merupakan kerajaan besar yang pernah mengalami masa kejayaan, wilayah kekuasaannya mencakup sebagian besar Kalimantan Utara hingga berbatasan dengan Brunei Darussalam.
Baca juga: DPMK Berau ajak desa lestarikan hutan untuk gait dana karbon
Pada masa perang dunia II, Istana Gunung Tabur sempat hancur akibat dibom oleh sekutu tahun 1945, namun oleh pemerintah daerah dibangun kembali pada 1990, kemudian tahun 1992 diresmikan sebagai Museum Batiwakkal, untuk menyimpan peninggalan bersejarah seperti meriam, singgasana, dan sejumlah barang kuno, sehingga menjadi salah satu kawasan tujuan wisata.
Gunung Tabur makin diminati menjadi tujuan wisata sejarah dan wisata budaya karena didukung oleh tradisi yang terpelihara, antara lain Baturunan Parau, tradisi gotong royong menurunkan perahu ke sungai, ritual Manyandru, dan sejumlah tradisi dalam kesultanan yang hingga kini lestari karena mendapat dukungan Pemkab Berau.
Sebelumnya, saat musyawarah pembangunan Kecamatan Gunung Tabur, bupati juga mengatakan, pembangunan dari sisi ekonomi dan infrastruktur telah dilakukan pengembangan Pasar Barambang, sehingga kawasan pasar ini menjadi pusat kuliner dan budaya, sejak diaktifkan awal 2026 sebagai ruang promosi UMKM.
Pasar ini terletak di tepi sungai, dekat Museum Gunung Tabur, diawali dengan buka setiap Sabtu dan Minggu malam, menyajikan kuliner khas Berau, jajanan dari berbagai daerah, dan sejumlah masakan yang cocok untuk makan malam.
"Tahun ini pembangunan di Gunung Tabur terus berlanjut, sejumlah kegiatan fisik yang telah dirancang antara lain pembangunan dan rehabilitasi beberapa ruas jalan, drainase, irigasi, normalisasi sungai, penguatan tebing, peningkatan sistem air minum, serta lanjutan pembangunan TPS 3R," kata Sri Juniarsih.
Baca juga: Berau fokus budaya bersih demi Maratua
Editor : Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Timur 2026