Samarinda (ANTARA Kaltim) - Bandar Udara (Bandara) Maratua di Kabupaten Berau pada 2014 akan mendapat bantuan dari Kementerian Perhubungan RI melalui APBN senilai Rp20 miliar untuk melanjutkan pekerjaan sisi udara.

"Bandara yang berada di pulau terluar Indonesia itu ditargetkan dapat beroperasi pada 2015 dengan rencana landasan pacu mencapai 1.200 meter kali 32 meter," kata Hetifah Sjaifudian, anggota DPR Komisi V bidang infrastruktur dan perhubungan di Samarinda, Minggu.

Hetifah yang berasal dari daerah pemilihan (dapil) Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara ini melanjutkan, pembangunan bandara tersebut dilakukan untuk mendukung pengembangan pariwisata karena Maratua berada dalam satu gugusan kepulauan Derawan yang terkenal keindahan alam bawah laut dan pantainya.

Pembangunan bandara di lokasi yang berpenduduk sekitar 4.000 jiwa tersebut dilakukan kerja sama dengan pemerintah daerah, yakni pada 2012 APBD Kaltim mengucurkan dana sebesar Rp5 miliar, antara lain digunakan land clearing (pematangan lahan) untuk pembangunan landasan pacu sepanjang 900 meter.

Kemudian pada 2013 Kaltim kembali mengucurkan Rp15 miliar yang digunakan untuk pengerasan landasan pacu sepanjang 1.200 meter. Landasan pacu sepanjang itu akan dapat didarati pesawat berbadan lebar jenis Avions de Transport Regional (ATR) yang dapat mengangkut sekitar 3040 menumpang.

Pembangunan bandara tersebut diharapkan dapat memberikan kemudahan bagi wisatawan yang ingin berlibur di Pulau Derawan, Maratua, dan sejumlah pulau lain yang berada dalam gugusan kepulauan itu.

Pembangunan bandara tersebut terbagi menjadi dua tahap, yakni untuk pembangunan terminal dan landasan pacu yang keduanya mengunakan anggaran dari APBD Kaltim, sedangkan dari Pemkab Berau mempersiapkan infrastruktur jalan dan pendukungnya.

Manfaat keberadaan bandara ini adalah, di samping dapat memperlancar arus tranportasi warga juga dapat mempermudah pendaratan pesawat militer milik TNI AU yang bertugas menjaga kedaulatan NKRI.

Menurutnya, keberadaan Bandara Maratua juga dapat mempermudah wisatawan yang langsung terbang dari Tanjung Redeb, Ibukota Berau ke Pulau Maratua dengan hanya beberapa menit.

Sedangkan selama ini, perjalanan ke Pulau Maratua memakan waktu cukup lama yang sekitar lima jam dengan kapal cepat dari Tanjung Redeb, atau dua jam dari Pulau Derawan.

Hetifah juga berharap keberadaan bandara tersebut mampu mendorong pertumbuhan ekonomi di Maratua dan sekitarnya, pasalnya pulau terluar yang berbatasan dengan Malaysia dan Filipina itu harus mendapat perhatian serius.

Apalagi di Pulau Maratua yang memiliki 4 desa, yakni Desa Teluk Harapan, Desa Payungpayung, Desa Bohesilian, dan Desa Teluk Alolo itu mayoritas penduduknya hidup sebagai petani, sehingga dengan banyaknya wisatawan yang masuk, maka hasil pertanian mereka bisa dibeli wisatawan. (*)

Editor: Arief Mujayatno
COPYRIGHT © 2014

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antarakaltim.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar