Dua pengendara motor tewas ditabrak truk kontainer barang yang melintas pada jam sibuk sekitar pukul 11.30 Wita, Selasa (3/7), dari pelabuhan peti kemas akibat jalan yang rusak parah, sehingga warga sekitar geram dan akhirnya nekat membakar truk kontainer tersebut.
"Meski semestinya pembakaran tidak seharusnya dilakukan warga sebagai tindakan main hakim sendiri, namun saya dapat memahami ini merupakan puncak kekesalan warga. Pembakaran terhadap truk kontainer adalah bentuk protes keras warga yang sudah jengah dengan masalah ini," kata Qamay sapaan akrab politisi PAN ini.
Politisi asal Dapil Samarinda ini menambahkan, ini tak hanya sekedar masalah jalan rusak namun kaitannya dengan alur keluar masuknya kendaraan berat dari dan menuju pelabuhan peti kemas.
Saat ini problem jalan serta pelabuhan peti kemas menjadi satu agenda yang sedang coba diselesaikan oleh Komisi II, namun adanya hal tersebut Qamay mempertegas agar pemerintah bisa lebih serius lagi menangani masalah ini.
"Tak sedikit warga yang telah menjadi korban, ditambah lagi situasi mendekati bulan ramadhan, tentu jalur distribusi khususnya truk-truk kontainer yang membawa bahan kebutuhan pokok akan semakin sibuk mobilitasnya," katanya.
Disamping itu Qamay juga menyoroti banyaknya jalan umum lain di Kota Samarinda yang rusak dan terkesan tidak diperhatikan serta tidak adanya transparansi pada kegiatan perbaikannya.
"Semestinya pada setiap pengerjaan perbaikan tentu ada nama dan nilai nominal kegiatan proyeknya, dimana semestinya warga bisa mengetahuinya melalui papan yang dipasang dan tertulis jenis kegiatan, nominal anggaran serta asal anggarannya apakah dari APBD Kota atau Provinsi," jelas Qamay.
Dengan transparansi tentu warga bisa turut mengawasi, apakah proyek sudah sesuai dengan spesifikasi pengerjaan yang dilakukan, sehingga perbaikan jalan tidak dikerjakan asal-asalan, yang membuatnya gampang rusak. (Humas DPRD Kaltim/adv)
Editor : Arief Mujayatno
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.