Balikpapan (ANTARA News - Kaltim) - Total E&P Indonesie menggalang  ratusan LSM (lembaga swadaya masyarakat) se-Kalimantan Timur untuk mengadakan pertemuan membahas tentang potensi dan keberadaan organisasi tersebut dalam perannya mendukung program pemerintah.
    
"Kini tercatat 300 LSM se-Kalimantan Timur dalam rangkaian pertemuan di Gedung Putri Karang Melenu (PKM),  Tenggarong Seberang, Kutai Kartanegara, 4-6 Oktober 2010," ujar Judith Navarro Dipodiputro, Vice President Corporate Communication Total Indonesie di Balikpapan, Senin.
     
Judith menjelaskan bahwa pertemuan yang digagas oleh salah satu perusahaan Migas (minyak dan gas bumi) di Kaltim itu bertujuan untuk mengenal potensi dan keberadaan lembaga-lembaga swadaya masyarakat se Kaltim, membangun pemahaman dan kebersamaan dengan LSM, dan sebagai langkah awal menjalin kemitraan antara pemerintah, LSM, akademisi, dan swasta yang salah satunya adalah Total Indonesie.
     
Perusahaan wajib menjalankan CSR (Community Social Responsibility atau program tanggung jawab sosial perusahaan), sebelumnya dikenal sebagai Comdep (Community Development), yakni perusahaan harus membiayai atau memfasilitasi kegiatan-kegiatan warga di sekitar tempat usahanya.
     
Rangkaian pertemuan di PKM berupa seminar-seminar dan banyak diskusi. Setelah dibuka oleh Dirjen Pemberdayaan Masyarakat Departemen Dalam Negeri, seminar-seminar dimulai.
     
"Ada 10 tema seminar yang disampaikan, berkenaan dengan hal-hal yang sudah dan sedang dikerjakan Total Indonesie hal CSR dan ilmu-ilmu praktis untuk teman-teman LSM," papar Judith.
     
Tema yang penting di antaranya adalah Pengembangan NGO Kaltim, Legalisasi, Kemandirian, Fund Raising, dan Manajemen.
     
"Itu semacam hal-hal yang kawan-kawan harus ketahui bila ingin membuat LSM atau NGO dan bagaimana seterusnya setelah lembaganya berdiri," kata Judith lagi.
     
Dengan demikian, ujarnya, akan tercipta lembaga swadaya masyarakat yang tidak hanya legal, tapi juga sehat dan mandiri.
     
Sebab itu pula, untuk forum ini, Total hanya menjadikan peserta LSM-LSM yang punya akta pendirian di Kaltim, telah beraktivitas tiga tahun atau lebih, pernah mengelola dana hibah selama dua tahun atau lebih, dan punya daerah dampingan.
     
"Teman-teman yang lembaganya tidak memenuhi syarat ini terpaksa tak jadi peserta, tapi cukup jadi observer, peninjau dulu," ujar Judith yang beberapa lama menjadi staf ahli Bupati Kukar di masa jabatan Syaukani Hassan Rais.
     
Dari 300 LSM yang hadir, hanya 75 yang menjadi peserta dan memiliki hak suara. Selainnya adalah peninjau.
     
NGO Forum tahun ini adalah yang kedua kalinya digelar Total. Tahun 2009, forum seperti ini dimulai Total dengan niat saling mengenal dengan para penggerak LSM dan lembaga-lembaganya.
     
"Dari forum yang pertama itulah kami melihat bahwa banyak LSM-LSM kita yang masih belum mandiri dan belum berjalan dengan sehat sebagaimana mestinya LSM yang profesional," kata Judith.


: Iskandar Zulkarnaen

COPYRIGHT © ANTARA 2026