Sangata (ANTARA)- Puluhan nelayan di Kutai Timur (Kalimantan Timur) kini menganggur akibat kesulitan untuk membekukan ikan tangkapan mereka karena kelangkaan es batu batangan di daerah itu.

Dilaporkan di Sangata, Jumat sedikitnya 30 unit perahu nelayan di Kutai Timur tampak sandar di sungai sekitar Jalan Pendidikan karena nelayan tidak melaut akibat persoalan itu.

Krisis batu es itu karena listrik di Kutai Timur "byar pet" (mati-hidup). Kelangkaan itu juga karena kebutuhan es di Sangata terus melonjak.

Sementara pabrik es untuk mendukung pembekuan ikan di daerah itu, meskipun sudah dibangun sejak 2000-an sampai kini belum bisa beroperasi karena belum ada akses jalan di Kenyamukan serta belum tersedia listrik.

Padahal kebutuhan batu es untuk mendinginkan ikan di Kutim mencapai 6.000 batang (per batang sekitar 40 kilogram) per nelayan pada setiap melaut.

"Kami sudah lima hari tidak melaut karena tidak ada batu es," kata Jufri, salah seorang nelayan yang dikonfirmasikan
 
Menurut Jufri (34) warga RT 40 Dusun II bukit pelangi, kesulitan dan kendala nelayan di daerah itu karena kesulitan mendapatkan es dalam jumlah besar.
 
"Sehingga setiap melaut kita mesti keliling kios-kios di Sangata untuk mencari batu es namun kini kian langka ditemukan," katanya dengan menuturkan bahwa setiap ke laut harus membawa sekitar 200 sampai 400 biji batu es untuk jangka waktu 5-6 malam di laut.
 
"Di daerah ini terdapat sekitar 30 unit kapal nelayan. Jadi sekiranya satu unit kapal butuh hanya 200 batang batu es maka kebutuhan untuk sekali melaut 6.000 batang," papar dia.
 
Nelayan yang lain, Abdul Rauf (48) menyatakan bahwa pihaknya khawatir jika kondisi akibat kelangkaan batu es batangan itu terus berlanjut karena akan mempengaruhi ekonomi warga pesisir.
  
"Bukan hanya nelayan namun masalah ini berdampak luas bagi perekonomian karena akan terjadi kelangkaan ikan serta harganya melonjak tajam," papar dia.
  
Jufri dan Abdul Rauf mengakui  selama ini memperoleh batu es dengan cara memesan lebih awal di warung-warung langganan dengan harga Rp1.300 per biji, namun akhir-akhir semakin sulit karena tingginya kebutuhan es di Sangata.


Editor : Iskandar Zulkarnaen

COPYRIGHT © ANTARA 2026