Samarinda (ANTARA News-Kaltim) - Gubernur Kaltim terkagum-kagum karena mengetahui bahwa gas yang ia gunakan untuk membuat telur ceplok (telur mata sapi) bukan gas alam namun merupakan energi alternatif, yakni biogas atau energi dari pengolahan kotoran ternak.

"Gas alternatif ini perlu dikembangkan karena bisa mengurangi ketergantungan dengan gas alam dan BBM," kata Gubernur Awang Faroek saat melihat salah satu desa di Bulungan yang ditetapkan menjadi percontohan produksi bio gas, belum lama ini.

Energi dari kohe itu telah dimanfaatkan dalam kehidupann sehari-hari beberapa warga Desa Panca Agung, Kecamatan Tanjung Palas, Kabupaten Bulungan yang kini ditetapkan menjadi desa percontohan produksi biogas.

Selain untuk keperluan di dapur, biogas bisa juga untuk dimanfaatkan untuk penerangan. Sementara cara kerja alat adalah mengubah kehe menjadi gas.
   
Usai menggoreng telur menggunakan perangkat dapur memanfaatkan biogas itu,  gubernur berinisiatif melelangnya kepada sejumlah pejabat yang menyertai rombongan. Alhasil, telur ceplok ala Awang Faroek menjadi telur mata sapi termahal di Kaltim karena dihargai Rp1,75 juta yang kemudian diserahkan kepada pemilik rumah.

Pemilik rumah tidak saja bersuka cita mendapat uang kaget yang lumayan itu namun mendapat pujian dari Gubernur Kaltim Awang karena sudah berhasil memanfaatkan sumber energi alternatif.

"Biogas merupakan sumber energi alternatif ramah lingkungan dan terbarukan. Bahan ini dapat dibakar seperti gas elpiji dan dapat digunakan sebagai sumber energi penggerak generator listrik, memasak dan lainnya, tergantung alat yang digunakan dan kebutuhan," kata Kepala Dinas Peternakan Kaltim, Ibrahim.

Salah satu kawasan di Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Timur diprogramkan menjadi desa percontohan produksi energi alternatif, yakni biogas atau pemanfaatan kotoran hewan menjadi sumber energi. 
   
Ia mengatakan desa yang akan dijadikan proyek percontohan mulai 2010 hingga 2011 itu bernama Desa Panca Agung, Kecamatan Tanjung Palas, Kabupaten Bulungan.
  
Dipilihnya Desa Panca Agung sebagai "pilot project" karena sebagian besar warganya merupakan peternak sapi dan pekebun sehingga kotoran hewan (kohe) segar selalu tersedia kapan saja dan berapapun yang dibutuhkan, selain juga karena masyarakatnya yang meminta. 
  
"Semua pihak terkait, mulai dari warga desa, kecamatan, Pemkab Bulungan hingga Pemprov Kaltim sudah menyatakan sepakat untuk menjadikan daerah itu sebagai proyek percontohan, ke depan akan banyak daerah lain yang menyusul, jadi tidak ada yang mempersoalkan program ini," kata Ibrahim mengenai kemungkinan ada protes terkait bau tak sedap bagian dari proses kegiatan itu.
  
Kesepakatan tersebut juga dibarengi persetujuan besaran dana yang akan digulirkan guna mewujudkan program pemanfaatan kohe menjadi sumber energi, yakni Dinas Peternakan Kaltim menyediakan dana Rp75 juta, sementara Dinas Peternakan Bulungan membantu Rp45 juta.

Dana dimanfaatkan untuk pengadaan perlengkapan alat pengubah kohe menjadi sumber energi (biogas) bagi 30 kepala keluarga (KK), yakni satu set perlengkapan masing-masing KK memerlukan biaya senilai Rp4 juta.
 
Pemprov Kaltim membantu untuk pengadaan alat per KK sebesar Rp2,5 juta, dan dari Pemkab Bulungan menggelontorkan Rp1,5 juta per KK sehingga total senilai Rp120 juta. Satu set perlengkapan tersebut mampu melayani energi untuk 2-3 KK.




Editor : Iskandar Zulkarnaen

COPYRIGHT © ANTARA 2026