Samarinda (ANTARA Kaltim) - Harga komoditas kebutuhan pokok sehari-hari di Provinsi Kalimantan Timur sepanjang Oktober 2015 mengalami inflasi sebesar 0,46 persen, seperti bahan makanan, perumahan, sandang, kesehatan, maupun pendidikan.

"Jika dirinci menurut kota, maka Samarinda mengalami inflasi 0,18 persen, Balikpapan berinflasi 0,87 persen, dan Kota Tarakan berinflasi 0,33 persen," ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Timur Aden Gultom di Samarinda, Senin.

Inflasi terjadi karena adanya perubahan indeks harga konsumen (IHK), yakni dari 124,62 pada September menjadi 125,20 pada Oktober.

Kondisi ini juga memicu inflasi untuk tahun kalender (Januari-Oktober) mencapai 3,87 persen, sedangkan inflasi "year on year" sebesar 7,65 persen.

Penyumbang inflasi terbesar sepanjang Oktober 2015 adalah kelompok transportasi dan komunikasi yang mencapai 0,85 persen, kemudian kelompok makanan jadi yang berinflasi 0,57 persen.

Disusul kelompok bahan makanan mengalami inflasi 0,45 persen, kelompok sandang berinflasi 0,45 persen, kelompok perumahan mengalami inflasi 0,16 persen, dan kelompok kesehatan berinflasi 0,07 persen.

Jika laju inflasi dilihat dari tahun ke tahun di bulan yang sama, lanjutnya, maka laju inflasi yang terjadi setiap bulan Oktober hampir sama, misalnya pada Oktober 2014 Kaltim mengalami inflasi 0,16 persen, kemudian pada Oktober 2013 berinflasi 0,14 persen.

Dalam menghitung perubahan harga baik inflasi maupun deflasi, kata dia, terdapat tiga kota di Kaltim yang sudah ditentukan BPS Pusat sebagai ukuran pembentukan IHK, yakni Samarinda, Balikpapan, dan Kota Tarakan yang kini masuk Provinsi Kalimantan Utara.

IHK merupakan salah satu indikator ekonomi yang digunakan oleh BPS untuk mengukur tingkat perubahan harga di tingkat konsumen, terutama perubahan harga pada level perkotaan.

"Sedangkan untuk menentukan harga di tingkat perdesaan, digunakan indikator nilai tukar petani (NTP) karena mayoritas pendapatan warga perdesaan adalah dari hasil pertanian, baik pertanian tanaman pangan, perkebunan, peternakan, perikanan, maupun hortikultura," ujar Aden lagi.  (*)

Pewarta: M Ghofar
Editor : Didik Kusbiantoro

COPYRIGHT © ANTARA 2026