kekayaan potensi alamnya dari ekploitasi minyak oleh perusahaan minyak Belanda.
"Namun, ironisme kini masih terlihat. Kondisi Sangasanga kini sangat memprihatinkan, kekayaan alamnya dikeruk sejak zaman kolonial Belanda namun sampai kini kondisi kota dan perekonomian di sini tak berubah," kata salah seorang tokoh masyarakat Sangsasanga, Drs. Bakhruddinsyah, SH di Samarinda, Senin.
Hal itu disampaikan terkait menjelang peringatan aksi heroik para pejuang kemerdekaan dalam pembebasan Sangasanga dari kolonial yang dikena dengan "Perjuangan Merah Putih Sangsasanga" pada 27 Januari 2010.
"Minyak Sangsasanga sudah diekploitasi sejak zaman Belanda namun kondisi kotanya masih termasuk tertinggal di Kaltim, belum lagi kondisi perekonomian rakyatnya yang cenderung hanya jadi penonton," kata dia.
Ia menuturkan bahwa sebelum daerah-daerah lain bukan saja di Kaltim namun di wilayah Kalimantan maju dan berkembang, ternyata Sangasangsa sudah duluan menjadi kota modern sehingga dulu disebut sebagai "Paris Van Borneo".
"Pemprov Kaltim maupun Pemkab Kutai Kartanegara harus memikirkan upaya dalam membangun Sangasanga menjadi kota berkembang, khususnya dalam mengoptimalkan potensi sebagai Kota Sejarah untuk mengoptimalkan potensinya sebagai kawasan wisata sejarah," papar dia.
Di Sangasanga terdapat situs bersejarah tentang perjuangan bangsa, di antaranya tempat pembantaian pada masa perang kemerdekaan, benteng pertahanan dan tugu Sanga-Sanga Muara.
Di Sangasanga juga terdapat penjara tua, serta jejak-sejak sejarah berbagai bangunan yang pernah ditempati tentara Belanda dan Jepang.
"Sangasanga itu terdapat Tugu Merah Putih, Monumen Perjuangan, Taman Makam Pahlawan, dan Sumur Minyak Tua, serta berbagai peninggalan cagar budaya yang ini disimpan di dalam Museum Perjuangan Merah Putih Sangasanga," imbuh dia.
"Sangasanga kini belum merdeka karena menghadapi penjajahan oleh perusahaan-perusahaan Migas dan batu bara milik investor luar yang tidak membawa arti apa-apa bagi warga setempat, jadi penjajahan masih berlangsung dalam bentuk neo-libralisme," katanya.
Terkait hal itu, ia mendesak seluruh pihak terkait agar lebih memperhatikan berbagai aspek pembangunan di Sangasanga agar ekploitasi kekayaan alamnya bukan hanya menyisakan persoalan lingkungan, sosial dan budaya bagi warga kota berpenduduk sekitar 14.400 jiwa.
Kegiatan perminyak di Sangasanga sama tuanya dengan sejarah perjuangan bangsa. Lapangan Sangsanga dan Tarakan mulai diusahakan pada 1897, yakni oleh Nederlandsch-Indische Industrie en Handel Maatschappij yang mengelolanya hingga 1905.
Setelah itu, giliran perusahaan Belanda lainnya, yakni Batavia Petroleum Maatscappij (BPM). Penjajah Jepang akhirnya mengambil alih lapangan minyak itu sejak kedatangannya pada 1942 hingga 1945.
Dari 1945 hingga 1972, Lapangan Sangasanga-Tarakan dikelola BPM, selanjutnya Permina, kemudian Pertamina. Lalu TIPCO-Tesoro melanjutkan hingga 1992. Setelah itu, giliran Medco E&P Kalimantan hingga 15 Oktober 2008. Sejak itu, Pertamina EP, anak usaha Pertamina, yang mengoperasikannya.
PT Pertamina EP tahun ini menyiapkan dana investasi hingga Rp90 miliar untuk memenuhi target peningkatan produksi minyak di wilayah operasi Sangasanga dan Tarakan, Kalimantan Timur (Kaltim) dari sekitar 5.100 barel per hari (bopd) menjadi 5.500 bopd akhir 2009.
Di Blok Sangasanga dan Samboja dengan luas areal 13.000 hektare terdapat 1.486 sumur namun kini hanya 118 sumur yang menghasilkan. Medco E&P Kalimantan adalah anak usaha Medco Energy International, yang menjadi technical assistance contract (TAC) di Sangasanga-Tarakan.
Editor : Iskandar Zulkarnaen
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.