Balikpapan (ANTARA) - Penjualan rumah baru di Kota Balikpapan terus menurun, hal itu kecenderungan yang sudah terjadi sejak 2025. Pada tiga bulan pertama 2026, penurunannya pun semakin dalam.

“Dalam catatan kami, hanya 72 unit rumah baru yang terjual pada triwulan I 2026. Jumlah itu turun lebih dari separuh dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 162 unit. Penurunan terjadi pada semua tipe rumah, dengan tipe kecil mencatat penurunan terdalam,” ungkap Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, Minggu.

Menurutnya, penyebab penurunan penjualan rumah tersebut akibat harga rumah yang naik, yang juga sudah terjadi sejak tahun lalu. Indeks Harga Properti Residensial (IHPR), yaitu indeks harga rumah baru, berada di 107,67 atau naik 1,44 persen dibandingkan tahun lalu. Kenaikan ini lebih tinggi dari triwulan sebelumnya. Seluruh tipe rumah mengalami kenaikan harga, terutama rumah tipe besar.

Di pasar Balikpapan sendiri, rumah tipe kecil seperti tipe 30–60 umumnya dijual pada kisaran Rp250–420 juta, sedangkan rumah tipe menengah seperti tipe 90–125 berada di kisaran Rp580 juta hingga Rp1,1 miliar. Untuk rumah tipe besar di kawasan premium, harganya bisa mencapai Rp2–5 miliar. Kenaikan harga yang terjadi sejak tahun lalu membuat sebagian calon pembeli menunda keputusan membeli.

Kenaikan harga terjadi karena developer menyesuaikan harga untuk menutup kenaikan biaya bahan bangunan dan upah pekerja. Kenaikan biaya bahan bangunan dan upah pekerja itu sendiri, antara lain, juga dipengaruhi oleh kenaikan harga BBM dan gangguan pasokan akibat perang Amerika–Iran.

“Penurunan penjualan pada awal 2026 dipengaruhi dua hal. Pertama, rumah tangga memusatkan belanja pada kebutuhan Ramadan dan Idul Fitri. Kedua, kenaikan harga rumah membuat sebagian calon pembeli menunda keputusan membeli. Kondisi ini juga berdampak pada berkurangnya pembangunan rumah baru pada periode yang sama,” jelas Robi.

Dari sisi pembiayaan, Kredit Pemilikan Rumah (KPR) masih menjadi pilihan utama. Sebanyak 71 persen pembeli rumah baru menggunakan KPR, turun dari 87,7 persen pada triwulan I 2025. Sisanya membeli secara tunai atau tunai bertahap. Pengembang menyebut sejumlah tantangan, mulai dari kenaikan harga bahan bangunan, kualitas kredit calon pembeli, perizinan, keterbatasan lahan, hingga kenaikan suku bunga KPR.

Di sisi lain, berbeda dengan pasar rumah tinggal, harga bangunan usaha seperti ruko, hotel, dan perkantoran masih turun, meski tidak sedalam sebelumnya. Indeks Harga Properti Komersial (IHPK) berada di 105,70, atau turun 0,10 persen dibandingkan tahun lalu.

Di pasar, ruko dua lantai di Balikpapan umumnya dijual pada kisaran Rp2–4 miliar, sementara ruko tiga lantai di lokasi utama seperti MT Haryono atau Grand City bisa mencapai Rp5–15 miliar. Penurunan harga pada awal 2026 terutama terlihat pada bangunan usaha di lokasi non utama, sementara segmen hotel mulai membaik didorong meningkatnya mobilitas pekerja, operasional Kilang Pertamina, pembangunan IKN tahap II, serta kegiatan MICE dan kedinasan.

Bank Indonesia menilai prospek pasar properti di Balikpapan tetap positif, didukung oleh proyek hilirisasi industri dan aktivitas ekonomi yang terus bergerak. BI juga memperkuat kebijakan makroprudensial untuk mendorong pembiayaan sektor perumahan dan bangunan usaha.

Kepala Perwakilan BI Balikpapan Robi Ariadi mengatakan dinamika harga dan penjualan properti perlu dicermati karena berkaitan dengan daya beli masyarakat dan perkembangan sektor konstruksi. “Kami terus memperkuat dukungan pembiayaan agar sektor properti tetap tumbuh sehat dan berkelanjutan,” ujarnya. 

 


Pewarta: Novi Abdi
Editor : Rahmad

COPYRIGHT © ANTARA 2026