Samarinda (ANTARA) - Pemerintah Kota Samarinda meluncurkan kapal khusus untuk misi pencarian dan pertolongan (SAR) di Sungai Mahakam berbahan aluminium dengan spesifikasi heavy-duty senilai Rp1,69 miliar.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda, Suwarso, di Samarinda, Sabtu, menegaskan bahwa pemilihan spesifikasi teknis menjadi prioritas utama mengingat derasnya arus Mahakam dan padatnya lalu lintas air.

“Kapal ini bukan speedboat penumpang. Sejak awal, kapal ini dirancang untuk kebutuhan penyelamatan dan dilengkapi alat navigasi khusus operasi rescue,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa kapal ini berbeda dengan kapal cepat pada umumnya yang berbahan fiberglass. Kapal milik BPBD ini menggunakan material marine aluminium.

Material ini dipilih karena daya tahannya yang tinggi terhadap benturan dan lebih aman saat melakukan manuver ekstrem di wilayah perairan rawan.

Berdasarkan dokumen teknis, kapal jenis Rigid Hull Aluminium Boat ini memiliki panjang tujuh meter, lebar 2,2 meter, dan tinggi lambung 0,7 meter. Dengan draft hanya 0,35 meter, kapal ini mampu melaju lincah di perairan dangkal maupun dalam tanpa mengorbankan stabilitas.

Baca juga: SAR gabungan temukan korban kecelakaan di Sungai Belayan Kaltim

Dapur pacunya pun tak main-main. Kapal ini "dipersenjatai" dua mesin outboard masing-masing berkekuatan 85 HP. Kombinasi tenaga ganda tersebut mampu memacu kapal hingga kecepatan 28-30 knot, memastikan personel BPBD tiba di lokasi darurat dengan cepat.

Demi efektivitas, kapasitas maksimal kapal dibatasi hanya untuk tujuh orang. Desain ini sengaja dibuat untuk memberikan ruang lapang bagi tim penyelamat dan penempatan peralatan evakuasi medis.

Warso menjelaskan bahwa pengadaan kapal ini dilakukan melalui sistem e-katalog dengan menggandeng produsen spesialis asal Sidoarjo, Jawa Timur, guna menjamin transparansi serta kualitas berstandar internasional.

Menurut dia operasional kapal cepat ini akan difokuskan pada dua fungsi krusial, yakni operasi SAR khusus untuk pencarian dan pertolongan korban kecelakaan air di Sungai Mahakam.

Kedua digunakan untuk patroli keamanan, yakni pengawasan kegiatan besar masyarakat, seperti Festival Mahakam, Festival Karang Mumus, hingga pengamanan malam tahun baru di kawasan Teras Samarinda.

“Harapannya kapal ini menjadi tulang punggung operasi penyelamatan di Samarinda, terutama di kawasan perairan yang selama ini cukup rawan,” jelas Warso.

Baca juga: SAR tutup operasi pascatemukan korban meninggal di Sungai Mahakam



Pewarta: Arumanto
Editor : Imam Santoso

COPYRIGHT © ANTARA 2026