Ini program pemerintah yang paling bermanfaat menurut saya. Benar-benar menyentuh kami yang di lapisan bawah

Samarinda (ANTARA) - Suara sapu yang bergesekan dengan plester semen terdengar ritmis di halaman masjid yang lengang. Gerakannya konstan, membersihkan setiap helai daun kering dan debu yang hinggap. 

Pria di balik gagang sapu itu melakukannya dengan fokus, seolah itu adalah tugas paling penting baginya. Setiap ayunan sapu adalah bentuk pelayanan, setiap sudut yang bersih adalah wujud dari pengabdian.

Pria itu adalah Muliyadi. Usianya 47 tahun, namun semangat kerjanya tak kalah dengan yang lebih muda. Dan tempat ia mengabdikan hidupnya ini adalah Masjid Baiturrahman di Jalan Pelita 6 Sambutan, Samarinda, Kalimantan Timur. 

Sebuah masjid dengan desain sederhana seolah menjadi saksi dari rutinitas hariannya. Bangunan utama masjid dicat dengan warna hijau cerah, berpadu dengan atap bertingkat yang juga berwarna senada. Di puncaknya, sebuah kubah perak memantulkan cahaya pagi yang keemasan.

Di sisi kiri bangunan, berdiri kokoh sebuah minaret yang didominasi warna putih, dengan beberapa aksen hiasan hijau di bagian atasnya. Pagar hitam berornamen geometris membatasinya dari jalanan. 

Inilah dunia Muliyadi, semesta yang berpusat pada panggilan adzan, saf yang lurus, dan lantai yang suci dari najis.

Sudah 22 tahun ia menjadi penjaga setia rumah Allah ini. Sejak 2003, ia adalah orang yang memastikan semuanya siap sebelum jamaah pertama datang untuk Subuh, dan mengunci pintu setelah jamaah terakhir pulang usai Isya. 

Ia adalah marbot,  peran yang seringkali dipandang sebelah mata, namun merupakan pilar utama bagi kenyamanan beribadah.

"Saya merantau dari Barabai, Kalimantan Selatan, dulu," tutur Muliyadi saat rehat sejenak dari pekerjaannya. 

Logat Banjarnya yang kental memberikan kehangatan dalam perbincangan. "Awalnya kerja apa saja, sampai akhirnya dapat amanah menjaga masjid ini," tuturnya lagi.

Perjalanannya tidak mudah. Ia memulai pengabdiannya dengan upah yang sangat jauh dari kata layak, hanya Rp300 ribu per bulan. Namun, ia tak pernah mengeluh. Baginya, bisa berada di dekat masjid dan melayani jemaah adalah berkah tersendiri. 

Waktu berjalan, dan rezeki pun perlahan mengikuti. Kini, upah bulanannya telah mencapai Rp2,7 juta.

"Cukup tidak cukup, ya dicukup-cukupi. Alhamdulillah untuk makan istri dan tiga anak kami masih bisa," katanya tersenyum. 

Untuk menambah penghasilan, ia sesekali menjual parfum. Botol-botol kecil wewangian itu ia tawarkan kepada teman atau jamaah, sebuah ikhtiar kecil untuk menopang ekonomi keluarga.

Dengan pendapatan seperti itu, mimpi untuk pergi umrah ke Tanah Suci adalah sebuah kemewahan yang terasa mustahil. 

Ia sering mendengar cerita jamaah yang baru pulang dari Makkah, merasakan kerinduan yang mendalam pada Baitullah, namun ia selalu menepis angan-angan itu dengan kesadaran diri. 

Logika matematikanya sederhana--biaya umrah puluhan juta, sementara pendapatannya hanya cukup untuk kebutuhan bulanan.

Hingga suatu hari, sebuah panggilan telepon mengurai senyum yang semakin merekah. Sebuah kabar dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur memberitahukan bahwa namanya terpilih untuk berangkat umrah melalui program Gratispol Kaltim, program unggulan Gubernur dan Wakil Gubernur Rudy Mas'ud-Seno Aji.

"Saya kaget. Antara percaya dan tidak. Saya tanya berkali-kali, apa tidak salah orang?" kenang Muliyadi.

Rasa tak percaya itu perlahan berubah menjadi haru saat ia sadar bahwa panggilan itu nyata. Doa-doa yang ia panjatkan di setiap lima waktu, di masjid yang ia rawat dengan tangannya sendiri, akhirnya dijawab. 

Panggilan ke Baitullah untuknya bukanlah lagi angan-angan. September 2025, bulan depan, ia dijadwalkan akan menjadi tamu Allah.

Kabar pengabdian yang berbuah manis ini tak berhenti di Sambutan. Gema syukur serupa terdengar hingga ke seberang Sungai Mahakam. Di kawasan Sungai Kledang, Samarinda Seberang, berdiri Masjid Besar Ash Shabirin. Di sanalah Syahid Aulia (38), seorang marbot lainnya, menenun kisahnya.

Syahid, yang lebih muda dari Muliyadi, telah mengabdi di masjid ini selama 12 tahun, sejak 2013. Ia juga seorang perantau dari tanah Banjar, tepatnya dari Amuntai. Dengan upah bulanan sebesar Rp1,5 juta, ia menghidupi istri dan tiga orang anaknya. 

Tantangan ekonominya bahkan lebih besar, namun tak sedikit pun mengurangi semangatnya merawat rumah ibadah.

"Kalau ditanya cukup, ya manusia tidak akan pernah merasa cukup. Tapi kalau ditanya berkah, alhamdulillah selalu ada jalan," ujar Syahid. 

Sama seperti Muliyadi, ia juga mencari penghasilan tambahan dengan berjualan baju gamis, meski hasilnya tak menentu. Fokus utamanya tetap pada kebersihan dan kerapian masjid.

Baginya, melihat jamaah bisa shalat dengan khusyuk di atas karpet yang bersih dan di ruangan yang wangi adalah bayaran yang tak ternilai. Dan sama seperti Muliyadi, ia juga menyimpan impian yang sama untuk bisa sujud di depan Ka'bah.

Ketika kabar gembira dari program Gratispol Kaltim sampai kepadanya, Syahid merasakan kebahagiaan yang meluap-luap. Ia merasa pengabdiannya yang mungkin tak terlihat oleh banyak orang, ternyata dilihat oleh Allah dan dihargai oleh sesama manusia melalui program pemerintah.

"Ini program pemerintah yang paling bermanfaat menurut saya. Benar-benar menyentuh kami yang di lapisan bawah," katanya. 

"Program ini menghargai pengabdian para penjaga masjid. Kami merasa ada yang peduli. Mudah-mudahan program ini bisa terus berjalan, karena masih banyak marbut lain yang juga punya mimpi yang sama," ucapnya lagi.

Baik itu Muliyadi dan Syahid adalah potret dari sebuah kesabaran. Mereka menemukan panggilan jiwa di masjid yang berbeda, namun disatukan oleh takdir yang sama--panggilan ke Baitullah.

Mereka adalah bukti bahwa rezeki bisa datang dari arah yang tak disangka-sangka, sebagai buah dari kesabaran dan keikhlasan.

Program Gratispol Kalimantan Timur telah menjadi jembatan bagi impian mereka.

Ini bukan sekadar program perjalanan religi gratis, melainkan bentuk pengakuan dan apresiasi tertinggi bagi para penjaga rumah-rumah Tuhan.

Pada September 2025, Muliyadi dan Syahid akan menukar sapu dan alat pel mereka dengan kain ihram. Mereka melangkah, bukan lagi di pelataran masjid di Samarinda, melainkan di pelataran Masjidil Haram di Makkah. 

Doa-doa mereka, yang selama ini mengawang di kubah masjid yang mereka rawat, akan segera mereka panjatkan langsung di depan Ka'bah. 


Hadiah suci 

Di antara gema doa yang melangit, ada sosok-sosok yang mengabdikan hidupnya dalam diam. Mereka adalah para penjaga—marbut masjid, koster gereja, hingga penjaga vihara dan pura—pahlawan tanpa tanda jasa yang memastikan tempat suci senantiasa terawat dan siap menyambut umat. 

Tak hanya umrah bagi marbut masjid, penjaga rumah ibadah umat lainpun mendapatkan hadiah perjalanan ke tanah suci mereka dari program Gratispol Pemprov Kalimantan Timur. (Antara Kaltim/HO-Adpimprov Kaltim)

Pengabdian mereka yang sering kali luput dari perhatian, kini mendapatkan apresiasi tertinggi dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.

Pada tahun 2025, sebuah inisiatif mulia digulirkan. Sebanyak 880 penjaga rumah ibadah dari seluruh kabupaten dan kota di Kaltim akan difasilitasi untuk menjejakkan kaki di Tanah Suci yang selama ini hanya mereka sebut dalam doa. 

Sebuah program perjalanan religi yang tidak hanya menjadi hadiah, tetapi juga pengakuan atas dedikasi panjang mereka.

"Program ini merupakan bentuk penghargaan pemerintah kepada mereka yang telah mengabdikan diri menjaga tempat-tempat ibadah," ungkap Lora Sari, Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Non-Pelayanan Dasar dari Biro Kesra Setda Provinsi Kaltim.

Pernyataannya bukan sekadar formalitas birokrasi, melainkan cerminan dari sebuah kebijakan yang menyentuh langsung denyut spiritual masyarakat.

Program ini dirancang dengan semangat merajut kebhinekaan. Dari total 880 penerima manfaat, 691 di antaranya adalah umat Muslim yang akan diberangkatkan untuk ibadah umrah ke Mekkah. 

Sementara itu, 189 lainnya yang merupakan penjaga rumah ibadah non-Muslim akan memulai perjalanan suci mereka ke destinasi religi sesuai keyakinan masing-masing, seperti Yerusalem bagi umat Kristiani atau menyusuri Sungai Gangga bagi umat Hindu.

Inklusivitas ini mengirimkan pesan kuat bahwa di Benua Etam, setiap pengabdian untuk Tuhan, apa pun agamanya, sama-sama berharga.

Pemerintah telah menyiapkan dana bantuan sebesar Rp35 juta untuk setiap penerima. Dana ini, setelah dipotong pajak, ditransfer langsung ke rekening masing-masing. Namun, untuk memastikan amanah ini sampai pada tujuannya, maka mekanisme pengawasan yang cermat diterapkan.

"Kami bekerja sama dengan bank pembangunan daerah untuk menahan (hold) dana tersebut di rekening penerima," jelas Lora.

Langkah ini bukanlah untuk mempersulit, melainkan untuk melindungi. 

Dana tersebut baru akan bisa dicairkan oleh bank setelah penerima menunjuk agen perjalanan resmi yang mereka pilih. Mekanisme ini dirancang sebagai benteng pengaman agar anggaran yang telah dialokasikan benar-benar digunakan untuk perjalanan religi, bukan untuk keperluan lain. 

Para penerima manfaat diberi keleluasaan penuh untuk memilih agen perjalanan mereka sendiri, memberikan fleksibilitas dalam merencanakan jadwal keberangkatan. 

Kendati, ada satu batasan waktu yang jelas--perjalanan suci ini harus terlaksana sebelum 31 Desember 2025. 

"Apabila hingga batas waktu tersebut dana tidak digunakan, maka akan otomatis ditarik kembali dan disetorkan ke kas negara," tambah Lora.

Tentu, tidak semua orang bisa serta-merta menerima anugerah ini. Ada kriteria yang menjadi saringan untuk memastikan program ini tepat sasaran. Syarat utamanya adalah calon penerima harus memiliki KTP Kalimantan Timur minimal selama tiga tahun dan telah mendedikasikan dirinya sebagai penjaga rumah ibadah sekurang-kurangnya selama dua tahun.

Status pengabdian ini pun harus dapat dipertanggungjawabkan secara formal, dibuktikan dengan surat keputusan (SK) yang dikeluarkan oleh pengurus rumah ibadah, bupati/wali kota, atau kantor Kementerian Agama setempat.

"Proses verifikasi dan validasi data kami lakukan," kata Lora. 

Lebih dari sekadar perjalanan religi, program ini adalah simbol bahwa pemerintah hadir dan peduli.

 

3000 penjaga rumah ibadah

Tercatat sekitar 3.000 penjaga rumah ibadah--dari penjaga masjid, gereja, pura, vihara, hingga klenteng dari 10 kabupaten/kota di Kaltim yang mendaftarkan diri. Mereka bersiap untuk diberangkatkan secara bertahap sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi mereka.

Abdul Khaliq, Kepala Kantor Wilayah Kemenag Kaltim menegaskan komitmen institusinya dalam menyukseskan program ini. Peran Kemenag tidak hanya sebatas dukungan moral, tetapi juga kontribusi teknis yang krusial. 

"Gratispol ini jadi tidak hanya untuk marbot saja, ada penjaga rumah ibadah dari agama Kristen, Katolik, Hindu dan Budha. Semua penjaganya diberangkatkan ke tempat-tempat yang dituju,” ujar Khaliq di kantornya, Jalan Basuki Rahmat, Samarinda.

Untuk memastikan transparansi dan ketepatan sasaran, Kemenag Kaltim memanfaatkan teknologi. Khusus untuk para marbot masjid, pendataan dilakukan secara terstruktur melalui aplikasi Sistem Informasi Masjid (SIMAS). 

Data ini diinput langsung oleh kantor Kemenag di tingkat kabupaten/kota. Sistem ini diberlakukan untuk memastikan transparansi dan ketepatan data dalam pelaksanaan program perjalanan religi gratis Kalimantan Timur.

Lebih dari itu, kontribusi Kanwil Kemenag Kaltim juga menyentuh program unggulan lainnya, yakni Jospol. “Untuk di Jospol, kami di Kemenag Kaltim berkontribusi dalam menyiapkan data terkait insentif guru agama dan ustaz,” tambah Khaliq. 

Hal ini menunjukkan peran strategis Kemenag sebagai penyedia data keagamaan yang akurat bagi pemerintah daerah.

Melihat antusiasme yang tinggi, Khaliq mengimbau kepada para penjaga rumah ibadah, khususnya marbot masjid yang belum terdaftar, untuk segera mendaftarkan diri ke kantor Kemenag setempat. Pendaftaran ini tidak hanya membuka pintu kesempatan untuk perjalanan rohani, tetapi juga membantu pemerintah memetakan data yang lebih akurat. 



Editor : Rahmad

COPYRIGHT © ANTARA 2026