Pendekatan berbasis keluarga menjadi penting karena berbagai hal, antara lain karena selama ini fokus pembangunan manusia masih tersentralisasi di sektor bukan keluarga

Samarinda (ANTARA) - Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) menyatakan transformasi dari BKKBN menjadi Kemendukbangga merupakan upaya untuk mempertajam pembangunan berbasis keluarga, karena potensi sumber daya ada dalam keluarga.

"Pendekatan berbasis keluarga menjadi penting karena berbagai hal, antara lain karena selama ini fokus pembangunan manusia masih tersentralisasi di sektor bukan keluarga," ujar Sekretaris Kemendukbangga/Sekretaris Utama BKKBN Budi Setiyono di Samarinda, Jumat.

Alasan lainnya adalah keluarga belum dijadikan satuan utama perencanaan pembangunan, kurangnya mekanisme koordinasi lintas kementerian atau lembaga (K/L) untuk penguatan fungsi keluarga, serta fragmentasi data keluarga dan ketidakpaduan intervensi.

"Termasuk masih minimnya inovasi sosial dan digital untuk penguatan keluarga, kemudian untuk penguatan keluarga dalam membendung dampak buruk konten digital," katanya dalam serangkaian agenda kerja di sejumlah daerah di Kaltim.

Transformasi Kemendukbangga, katanya, telah dituangkan dalam Peta Jalan Pembangunan Kependudukan 2025-2029, bertujuan untuk mewujudkan ekosistem pembangunan manusia yang terintegrasi dan berkelanjutan.

Ekosistem pembangunan manusia ini dengan menyasar keluarga sebagai pusat kebijakan dalam menjawab tantangan demografi menuju Indonesia emas 2045.

Peta jalan ini dibagi tiga periode, dimulai pada 2025 dengan membuat fondasi transformasi, yakni integrasi data mikro keluarga (one famly one data), penyediaan dan integrasi data mikro keluarga berbasis Nomor Induk Kependudukan (NIK) yang mengacu pada DTKS, Dapodik, Dukcapil, dan SSGI.

Aksinya berupa penguatan koordinasi lintas sektor dan daerah, sinkronisasi kebijakan pembangunan keluarga melalui koordinasi strategis, serta peluncuran awal inovasi sosial dan digital (Quick Wins).

Kemudian pengembangan dan peluncuran awal aplikasi keluarga (Super Apps) dan layanan digital terintegrasi, penguatan awal kemitraan pentahelix, serta perluasan Kampung KB dan penguatan kolaborasi multipihak (pemerintah, swasta,akademisi, masyarakat, media).

Kemudian pada 2026-2027 dilakukan perluasan dan penguatan sistem optimalisasi kebijakan populasi berbasis siklus hidup, implementasi kebijakan berbasis keluarga secara nasional (remaja, usia produktif, hingga lansia).

Sedangkan periode 2028-2029 dilakukan institusionalisasi dan keberlanjutan, yakni data mikro keluarga sebagai standar operasional kegiatan, penggunaan data keluarga sebagai acuan wajib dalam seluruh perencanaan pembangunan manusia.

"Dalam hal ini, Kemendukbangga sebagai integrator kebijakan berbasis keluarga secara permanen, digitalisasi layanan keluarga sebagai standar utama nasional, pelayanan keluarga digital sebagai norma nasional, kemitraan multipihak yang mandiri dan berkelanjutan, serta pembangunan manusia berbasis kolaborasi lintas sektor," katanya.



Pewarta: M.Ghofar
Editor : M.Ghofar

COPYRIGHT © ANTARA 2026