Samarinda (ANTARA) - Jumlah penerima manfaat program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) sepanjang 2025 mencapai 15.594 orang, baik ibu hamil, ibu menyusui, maupun balita, sehingga dinilai mampu mengurangi prevalensi stunting.

"Berkat masifnya program Genting dan pelibatan berbagai unsur dalam penurunan maupun penanganannya, maka prevalensi stunting pada 2025 menjadi 15,94 persen, jauh menurun ketimbang tahun sebelumnya yang tercatat 22,2 persen," kata Ketua Tim Kerja Data dan Informasi Publik Perwakilan Kemendukbangga/ BKKBN Kaltim Sitti Mayasari Hamzah di Samarinda, Selasa.

Ketua Tim Kerja Data dan Informasi Publik Perwakilan Kemendukbangga/ BKKBN Kaltim Sitti Mayasari Hamzah (ANTARA/ HO- BKKBN Kaltim)

Menurut dia, jumlah sasaran penerima bantuan dari program Genting yang sebanyak 15.594 orang ini realisasinya mencapai 208,2 persen dari target yang ditetapkan sebelumnya.

Program Genting yang merupakan bagian dari program besar Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) ini merupakan salah satu dari empat prioritas yang digalakkan pihaknya.

Program lainnya, yakni Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya), yakni program yang bertujuan untuk meningkatkan indeks Pembangunan Keluarga (iBangga), menurunkan angka stunting, serta memperkuat peran orang tua melalui kelas pengasuhan dan sistem rujukan yang efektif.

Ia menyebut bahwa dalam Tamasya telah ada 48 taman pengasuhan anak (TPA) yang melaksanakan empat layanan utama, yakni layanan yang terintegrasi untuk memastikan tumbuh kembang anak optimal dan mendukung produktivitas orang tua bekerja.

Baca juga: DPPKB Samarinda kuatkan pencegahan cegah tengkes baru lewat MBG

Empat layanan ini meliputi layanan peningkatan kompetensi pengasuh, yakni layanan yang berfokus pada pelatihan dan pendampingan bagi pengasuh agar profesional, kompeten, dan tersertifikasi.

Kemudian, layanan pemantauan tumbuh kembang anak, berupa layanan dengan pemantauan secara rutin fisik dan perkembangan anak, memastikan anak tumbuh ceria, sehat, dan mendapatkan stimulasi yang sesuai dengan kebutuhan sesuai usia anak.

Berikutnya, layanan feedback orang tua/keluarga, yakni membangun komunikasi aktif dan pelaporan rutin kepada orang tua terkait perkembangan anak, sehingga orang tua tetap dapat memantau tumbuh kembang anak meski sedang bekerja.

Ada pula layanan rujukan, merupakan layanan yang memberikan rujukan jika ditemukan indikasi gangguan tumbuh kembang atau kebutuhan khusus pada anak, sehingga dari sini akan dilanjutkan dengan penanganan lebih lanjut dan profesional.

"Dalam TPA Tamasya di Kaltim terdapat 166 peserta ayah yang mengikuti Tamasya Kerabat, terdapat 1.578 pengasuh Tamasya mendapatkan Sertifikat Kerabat, dan terdapat 91 pengasuh Tamasya mendapatkan Sertifikat Sibima BKB Emas," katanya.

Program Bangga Kencana lainnya adalah Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), untuk meningkatkan keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak dan ketahanan keluarga, yakni terdapat 10.768 ayah/calon ayah yang terlibat GATI Kaltim.

"Ada pula program Lansia Berdaya (Sidaya). Dalam hal ini, sepanjang 2025 terdapat 9.275 lansia mendapat pemeriksaan kesehatan, kader yang mendapat pelatihan pendampingan ada 279 orang, dan terdapat 8 sekolah lansia," ujar Mayasari.

Baca juga: Pemprov Kaltim-PalmCo entaskan tengkes di Paser

Pewarta: M.Ghofar
Editor : Imam Santoso

COPYRIGHT © ANTARA 2026