Sangatta (ANTARA) - Investasi proyek hilirisasi batu bara ke bahan cair methanol PT Bumi Etam Chemical (BEC) di Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur yang saat ini dalam tahap pembangunan senilai Rp41,52 triliun.
“Kita ingin investasi ini memberikan efek ganda yang besar guna mendukung terwujudnya visi Indonesia Maju 2045,” ucap Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung, dalam peresmian pembangunan pabrik PT. BEC, di Kecamatan Bengalon, Kutai Timur, Senin (31/8).
Pembangunan industri methanol di Kutai Timur tersebut masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) tahun 2026. Proyek itu bertujuan dalam memperkuat rantai pasokan industri nasional.
Dia mengatakan proyek industri yang dijalankan PT. BEC diharapkan dapat menjadi salah satu contoh keberhasilan hilirisasi batubara dengan meningkatkan nilai tambah komoditas di dalam negeri.
Pembangunan itu untuk mendorong pengembangan industri metanol dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor.
“Kebutuhan metanol nasional berpotensi meningkat seiring pelaksanaan program peningkatan campuran biodiesel dari B50 menuju B60,” ucap Yuliot Tanjung.
Kebutuhan metanol untuk mendukung implementasi tersebut diperkirakan mencapai Rp9 triliun. Jika kebutuhan itu masih dipenuhi melalui impor, devisa Indonesia akan terus keluar.
Oleh karena itu, pembangunan pabrik metanol dinilai menjadi bagian penting dalam upaya memperkuat ketahanan energi sekaligus meningkatkan pemanfaatan batu bara di dalam negeri.
Menurutnya batu bara berkalori rendah (low-rank coal) yang menjadi bahan baku proyek akan diolah menjadi metanol. Proses tersebut diharapkan menghasilkan nilai tambah yang lebih besar dibandingkan apabila batu bara hanya dipasarkan sebagai komoditas mentah.
Yuliot menyebut produk metanol juga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi berbagai produk turunan. Salah satunya Dimethyl Ether (DME) yang dapat dimanfaatkan sebagai alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG.
Selain menyasar kebutuhan domestik, pemerintah melihat peluang pasar internasional bagi produk metanol. Pangsa pasar metanol dunia diperkirakan mencapai sekitar 56 miliar dolar AS pada 2030.
“Ini menjadi peluang bagi kita untuk tidak hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga dapat masuk ke dalam rantai pasok global,” katanya.
Proyek PT. BEC juga dirancang terintegrasi dengan pembangkit listrik berkapasitas sekitar 3 x 400 megawatt (MW). Pembangkit tersebut diarahkan menggunakan teknologi yang lebih bersih dengan penerapan Carbon Capture and Storage (CCS).
Pembangunan proyek tersebut merupakan hasil proses panjang yang telah berlangsung sejak 2010. Dari persiapan hingga tahap groundbreaking membutuhkan waktu sekitar 15 tahun.
Di sisi lain, pemerintah daerah berharap proyek tersebut harus memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat lokal.
Sementara itu, Kepala Dinas ESDM Provinsi Kaltim Bambang Arwanto mengatakan besarnya investasi harus diikuti keterlibatan tenaga kerja dan pelaku usaha lokal.
“Investasi Rp41 triliun ini jangan hanya berhenti di dalam pagar kawasan industri. Dampaknya harus keluar dari pagar,” ujar Bambang.
Keberadaan proyek dapat membuka lapangan kerja, menciptakan peluang bagi pelaku usaha, meningkatkan pendapatan daerah, serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Pembangunan proyek coal-to-methanol PT BEC ditargetkan dapat selesai dan mulai beroperasi pada 2029.
"Pemerintah berharap keberadaan industri tersebut menjadi salah satu fondasi penguatan industri hilir sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap produk metanol impor,"ujar Bambang Arwanto.
Pewarta: Muhammad Hafif NikolasEditor : Rahmad
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.