Kami optimistis program itu terwujud meskipun untuk menuju realisasinya merupakan tugas berat, namun seberat apapun itu, semua harus dijalani dengan penuh semangat dan percaya diri,"Samarinda (ANTARA Kaltim) - Kepala Dinas Peternakan (Kadisnak) Provinsi Kalimantan Timur Dadang Sudarya mengaku optimis mampu mewujudkan program dua juta ekor sapi sesuai dengan Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2014-2018.
"Kami optimistis program itu terwujud meskipun untuk menuju realisasinya merupakan tugas berat, namun seberat apapun itu, semua harus dijalani dengan penuh semangat dan percaya diri," ucap Dadang Sudarya di Samarinda, Senin.
Pernyataan itu disampaikan Dadang ditemui setelah membuka pelatihan berkelanjutan bagi petugas Participatory Disease Surveillance Response (PDSR), atau petugas pencegah dan menanggulangi bahaya flu burung, yang digelar di aula Dinas Peternakan Kalimantan Timur (Kaltim).
Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mewujudkannya, di antaranya dengan integrasi sapi-sawit, memacu peternak untuk melakukan pembibitan, dan memberikan bantuan bibit sapi kepada peternak yang mendapat penilaian positif dalam pengembangan usaha ternak mereka selama ini.
Dia mengatakan bahwa hingga kini masih banyak peternak di Kaltim yang potensial atau serius dalam menjalankan usahanya, tetapi karena minimnya modal untuk pembiayaan penambahan sapi baru, maka mereka sulit mengembangkannya.
Berdasarkan hal tersebut, maka pemerintah akan memberikan bantuan bibit sapi kepada para peternak kecil, kemudian peternak lain didorong mendapatkan pinjaman dari perbankan guna akses permodalan, apalagi selain Bank Pembangunan Daerah (BPD) Kaltim yang sudah siap membantu permodalan, masih ada sejumlah bank lain yang juga memberikan kredit untuk usaha ternak.
Dia juga akan terus berusaha mengubah pola pikir peternak skala kecil yang takut tidak berhasil dalam membesarkan usaha ternaknya, yakni selama ini peternak takut suatu saat harga sapi akan turun jika terlalu banyak sapi yang dipelihara masyarakat sehingga sulit memasarkan.
Menurutnya, ketakutan peternak itu terjadi lantaran mereka masih melihat skala lokal, tetapi jika melihat secara regional dan nasional, pasti mereka akan berani membesarkan ternaknya, pasalnya hingga kini sapi-sapi di Indonesia masih diimpor dari Australia.
Apabila ke depan Kaltim sudah mampu memiliki jutaan ekor sapi, maka Indonesia tidak akan lagi mengimpor sapi karena cukup membeli sapi dari Kaltim untuk disebar ke provinsi lain yang kekurangan daging sapi, bahkan bisa saja Kaltim malah mengimpor sapi.
Terkait integrasi sapi-sawit kata dia, saat ini di Kaltim dan Kaltara telah memiliki perkebunan sawit seluas 1 juta hektare. Apabila tiap hektare dikembangkan 3 ekor sapi saja, maka sudah dapat diperoleh 3 juta ekor sapi.
Sedangkan jika integrasi sapi-sawit hanya berhasil 50 persen, maka paling tidak akan diperoleh 1,5 juta ekor sapi. Ini berarti sisanya yang kurang 500 ribu ekor dapat diatasi melalui kerja sama dengan perusahaan di luar perkebunan, peran masyarakat, dan menggenjot peternak melalui bantuan, kredit, dan upaya lainnya. (*)
Pewarta: M GhofarEditor : Amirullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.