Samarinda (ANTARA Kaltim)- Apa jadinya jika ibu kota provinsi tidak punya infrastruktur strategis menunjang laju pembangunan, seperti bandara representatif, convention centre dengan kapasitas besar. Janggal memang, tapi itulah kondisi Samarinda sebagai ibu kota yang tak punya bandara layak.

Keberadaan Bandara Temindung belum bisa mewakili kebutuhan transportasi warga Samarinda. Alhasil Bandara Sepinggan di Balikpapan yang menyeruak sebagai bandara utama di Kaltim.

Kondisi ini perlahan mulai bergeser, lewat pendanaan APBD provinsi, beberapa proyek bakal membuat Samarinda menjadi ibu kota provinsi yang ideal terus dikebut penyelesaiannya.

Di antaranya upaya untuk memecah kemacetan di Muara jalan RE Martadinata Teluk Lerong, pembangunan Jembatan Kembar Mahakam yang juga sebagai pemecah kepadatan arus lalu lintas dari dan menuju Samarinda Seberang. Perbaikan jalan Gajah Mada yang beberapa waktu lalu tiba-tiba ambles, hingga pembangunan Bandara Samarinda Baru Sungai Siring awalnya menuai kontroversi.

Selain itu, beberapa lokasi lain juga dikunjungi komisi gabungan yang beranggotakan HM Darlis Pattalongi, Rusman Yaqub, Siti Qomariah, Sudarno, Waris Husein, Encik Widyani, Jawad Siradjuddin dan koordinator rombongan Abdurrahman Alhasni.

Di antaranya penanganan longsoran Jalan Gajah Mada Samarinda dengan nilai kontrak Rp 14,11 miliar, pembangunan Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim di jalan MT Haryono, proyek sisi darat Bandara Samarinda Baru (BSB) Sungai Siring, proyek Convention Hall di Komplek Stadion Sempaja.

Rata-rata progres pekerjaan dijadwalkan selesai sesuai kontrak pada akhir tahun ini. Jika sesuai skenario, dalam 2 tahun mendatang Samarinda bakal jadi kota ideal, sebagaimana statusnya sebagai ibu kota provinsi. Berikut rekaman kegiatan dari rangkaian kunjungan kerja komisi gabungan tersebut. (Humas DPRD Kaltim/adv/dhi/met)






Editor : Rahmad

COPYRIGHT © ANTARA 2026