"Pada 2012 lalu Kaltim masih kekurangan sekitar 96 ribu ton beras, kami harapkan pada tahun ini kekurangan itu tidak terjadi lagi karena terus diupayakan mampu swasembada beras," ucap Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kalimantan Timur (Kaltim) H Ibrahim di Samarinda, Selasa.
Selanjutnya, guna terus meningkatkan produksi dan produktivitas padi, pihaknya melakukan berbagai langkah strategis, di antaranya melakukan optimalisasi lahan, mencetak sawah baru, dan memberikan subsidi bagi tenaga penyuluh pertanian.
Di antara contoh yang telah terbukti dari kegiatan tersebut adalah produktivitas padi dari Sekolah Lapang Pengendali Hama Terpadu (SLPHT) dan tebar benih ikan pada kolam milik warga di Makroman, Kecamatan Sambutan, Samarinda.
Hasil tersebut merupakan contoh perbandingan pelaksanaan tanam padi antara SLPHT dan petani setempat.
Di lahan SLPHT menerapkan prinsip pengelolaan hama terpadu dan terbukti meningkatkan panen sebesar 1 ton, yakni dari 4,1 ton per hektare pada panen sebelumnya, naik menjadi 5,1 ton per hektare.
Hingga kini di Kaltim terdapat 180 unit SLPHT yang mulai dibentuk sejak 1997. Sementara jumlah alumni di sekolah itu sebanyak 4.500 orang yang sudah tersebar di seluruh kabupaten dan kota, terutama di sejumlah sentra pertanian padi.
Petani alumni SLPHT di setiap kecamatan kelak akan menjadi cikal bakal regu pengendali hama, petani pengamat hama secara swakarsa, dan kelompok pos pengelola agen hayati yang dilegalisir melalui surat keputusan Kepala Dinas Pertanian Provinsi Kaltim.
Secara nasional melalui SLPHT, intensitas serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) pada tahun 2012 berhasil ditekan hingga 3,7 persen, sementara di Kaltim intensitasnya dapat ditekan 4,7 persen dari target nasional sebesar 5 persen.
SLPHT adalah sekolah lapang yang mendidik petani setempat, yakni terkait pengetahuan dan keterampilan yang didasarkan pada pemahaman menerapkan prinsip-prinsip pengelolaan hama terpadu dalam bududaya tanaman padi.
Prinsip-prinsip yang diperhatikan oleh petani adalah budidaya tanaman sehat, pelestarian musuh alami dengan memperhatikan keseimbangan alam, pemilihan benih sehat, dan mewujudkan petani sebagai ahli bagi diri sendiri dan kelompok tani.
Petani SLPHT juga diajarkan mengolah bahan-bahan tanaman di sekitar lahan menjadi pupuk dan obat-obatan alami. Tujuannnya adalah untuk menciptakan pertanian yang sehat tanpa pupuk kimia dan racun serangga.
Pestisida nabati yang dapat diolah menjadi musuh alami serangga pengganggu, di antaranya tanaman sereh, sambiloto, tambora, jengkol, kunyit, bawang, kemangi, dan lainnya. (*)
Pewarta: M GhofarEditor : Arief Mujayatno
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.