Tana Paser (ANTARA Kaltim) - Warga dari enam desa (Segendang, Lomu, Keladen, Random, Senipah, dan Selengot) Kabupaten Paser, terpaksa mengambil jalan memutar masuk ke wilayah Kalimantan Selatan, karena jalan penghubung desa-desa tersebut rusak parah.

Kepala Desa Keladen, Tarmiji, yang mewakili warga dari enam desa tersebut mengatakan, jalan penghubung desa sempat dinikmati saat musim panas akhir 2012 lalu, namun kini warga terpaksa mengambil jalan memutar akibat kondisi jalan penghubung yang rusak parah.

Akibat rusaknya jalan penghubung tersebut membuat bertambahnya jarak tempuh, dari jarak normal sejauh 50 kilometer menjadi 95 kilometer untuk keluar menuju Desa Kerang.

"Dari jarak kurang lebih 55 kilometer, sekitar 40 kilometer diantaranya ruas jalanan dengan kondisi rusak parah. Terutama ruas jalan di Desa Lomu, sangat tidak nyaman untuk dilalui," kata Tarmiji.

Pada 2012 lalu lanjut Tarmiji, warga sempat menambal beberapa titik jalan yang berlubang dengan diameter 40 centi meter hingga satu meter dengan dana swadaya.  

Hal ini dikarenakan akses jalan yang rusak merupakan satu-satunya akses penghubung dari enam desa tersebut.

"Pada 2012, ruas jalan penghubung yang rusak ada di tiga titik (Segendang–Keladen–Senipah). Jalan tersebut sempat diperbaiki dengan dana swadaya masyarakat, namun kini jumlah titik kerusakan makin bertambah hingga ruas jalan yang melintasi daerah Segendang-Lomu, terutama daerah Pawing, sehingga kendaraan roda empat terpaksa harus menginap,” katanya.  

Bersama lima kepala desa yang lain, Tarmiji berharap pemerintah Provinsi Kaltim dan Pemkab Paser segera mengalokasikan anggaran untuk perbaikan jalan penghubung desa karena jalan tersebut  merupakan akses yang menunjang perekonomian masyarakat di enam desa tersebut.

“Kami sangat berharap Pemkab Paser dan Pemrov Kaltim dapat mencarikan solusi terbaik untuk perbaikan jalan di wilayah kami. Sudah belasan tahun, kami belum merasakan nikmatnya akses transportasi yang memadai,”harap Tarmiji.     (*)


Pewarta: R. Wartono
Editor : Arief Mujayatno

COPYRIGHT © ANTARA 2026