Sebenarnya secara makro produksi padi di Nunukan surplus, cuma distribusinya yang tidak merata terkait dengan akses yang masih sulit terjangkau,"Nunukan (ANTARA Kaltim) - Produksi padi di Kabupaten Nunukan, sebenarnya surplus setiap tahunnya berdasarkan populasi penduduknya, hanya saja, distribusi secara merata antarpulau atau kecamatan hingga pelosok masih menjadi kendala sehingga masih harus menyuplai beras dari Sulawesi Selatan, kata Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan Kabupaten Nunukan, Subandi SP, Sabtu.
Menurut dia, bukti bahwa tingkat produksi padi melebihi dari kebutuhan (surplus) dengan menakar pada hasil panen petani setiap tahunnya dengan jumlah penduduk namun tidak merata.
Ia mengatakan beberapa kecamatan yang selama ini menjadi lumbung padi di Kabupaten Nunukan dengan tingkat produksi padi yang cukup berlimpah seperti di Pulau Sebatik, Krayan, Krayan Selatan, Lumbis dan Sembakung.
Sedangkan beberapa kecamatan yang dianggap masih kurang adalah Kecamatan Nunukan, Nunukan Selatan, Seimenggaris dan Sebuku, ujarnya.
"Sebenarnya secara makro produksi padi di Nunukan surplus, cuma distribusinya yang tidak merata terkait dengan akses yang masih sulit terjangkau," kata Subandi.
Jika diukur dari tingkat kebutuhan setiap orang hanya mengonsumsi sekitar 133 kilogram per kapita pertahun, sementara produksi beras padi dapat melebihi dari itu, katanya.
Subandi menerangkan dari keempat kecamatan yang masih kekurangan persediaan beras tersebut, sangat sulit mendapatkan suplai dari wilayah yang surplus karena terkendala sarana transportasi sehingga petani lebih memilih menjual ke negara tetangga Malaysia yang dianggap lebih ekonomis.
Oleh karena itu, dia melanjutkan, untuk menutupi kekurangan persediaan beras maka disuplai dari luar daerah yakni Sulawesi Selatan yang menjadi daerah penyuplai terbesar besar ke Kabupaten Nunukan.
"Mendatangkan beras dari luar daerah biaya operasionalnya lebih murah dibandingkan menyuplai dari Krayan dan Krayan Selatan melalui produk unggulan padi `adan` itu," bebernya.
Kemudian beras yang diproduksi petani dari Pulau Sebatik, Subandi menyatakan lebih memilih menjual ke Tawau Malaysia daripada ke Pulau Nunukan dengan pertimbangan harga yang lebih mahal dan jangkauannya lebih mudah.
Seperti beras "adan" Krayan, apabila diangkut ke Pulau Nunukan harganya dapat mencapai Rp20.000 per kilogram karena harus diangkut dengan menggunakan pesawat.
"Jadi pertimbangan itulah dan beberapa aspek yang mendasari sehingga masyarakat di sejumlah kecamatan masih kekurangan bahan pokok beras dan jalan keluarnya menyuplai dari luar daerah. Walaupun sebenarnya kita ini surplus beras dengan kalkulasi nilai produksi dengan jumlah penduduk," jelasnya. (*)
Pewarta: M RusmanEditor : Arief Mujayatno
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.