Sebenarnya, kata dia, ketersediaan sapi untuk konsumsi daging di wilayahnya sudah jauh dari cukup dengan banyaknya bantuan-bantuan dari pemerintah kabupaten maupun pemerintah provinsi.
Namun, pemilik hewan pedaging terpaksa menjual keluar daerah karena sulitnya memasarkan di dalam wilayah Kabupaten Nunukan sementara daerah lainnya sangat membutuhkannya, katanya.
Ia menyatakan, kebutuhan daging di Kota Tarakan mencapai 10-16 ekor setiap hari dan sebagian besar sapi potong tersebut diperoleh dari Kabupaten Nunukan.
Sementara itu, lanjut Basri, rumah pemotongan hewan (RPH) yang dimiliki Kabupaten Nunukan terletak di Mamolo Desa Tanjung Harapan Kecamatan Nunukan Selatan tidak difungsikan disebabkan masih banyaknya suplai daging dari Tawau Malaysia yang harganya lebih murah sekitar Rp50.000 perkilogram.
"Jadi daging yang dikonsumsi masyarakat Tarakan itu sebagian berasal sapi dari Kabupaten Nunukan," jelasnya.
Kendala lain yang dihadapi sehingga RPH selama ini vakum adalah tidak tersedianya pasokan listrik padahal tempat pembekuan (freezer) yang dimiliki RPH tersebut dapat menampung hingga ratusan kilogram.
Selaku pemerintah daerah, Basri telah mengingatkan kepada pengusaha sapi agar lebih memikirkan soal persaingan harga dengan daging dari Malaysia sehingga masyarakat Kabupaten Nunukan lebih memilih mengonsumsi daging lokal.
Apabila masalah harga dapat diantisipasi, maka sapi bantuan pemerintah yang sudah berkembang biak di kalangan masyarakat tersebut dapat dinikmati sendiri oleh masyarakat Kabupaten Nunukan dengan kata lain tidak dijual keluar daerah lagi, harapnya.(*)
Pewarta: M RusmanEditor : Arief Mujayatno
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.