Banyak hal menarik ketika membicarakan nama Pas band, salah satunya adalah ketika mereka menjadi penampil dalam festival musik Jakarta Pop Alternative Festival yang digelar pada 14 Januari 1996 di Plaza Timur Senayan, Jakarta.


Jakarta Pop Alternative Festival adalah festival musik yang menampilkan sejumlah musisi baik dari Indonesia dan mancanegara. Saat itu, nama-nama band besar di kancah musik internasional seperti Beastie Boys, Sonic Youth, dan Foo Fighters menjadi suguhan utama dari festival musik yang diselenggarakan oleh promotor Java Musikindo.

Sementara perwakilan musisi dalam negeri yang tampil adalah Netral, Nugie, dan juga Pas band yang saat itu masih berformasikan Yukie (vokal), Trisno (bass), Bengbeng (gitar), dan Richard Mutter (drum).

Dalam sebuah wawancara khusus dengan ANTARA secara daring, band asal Bandung ini berbagi memori pahit dan manis saat mereka tampil di acara yang menurut beberapa komentar penikmat musik sebagai festival musik paling keren yang pernah diselenggarakan.

Seperti ketika Dave Grohl yang merupakan vokalis dari Foo Fighters memberikan pujian kepada penampilan Pas band hingga kejadian kurang menyenangkan yang dialami mereka selama acara itu berlangsung.

Semua momen itu diakui oleh personel Pas band sebagai sebuah pengalaman berharga sekaligus pelajaran tak ternilai dalam perjalanan karir mereka di industri musik Indonesia.

Berikut adalah petikan lengkap wawancara Pas band mengenai pengalaman mereka tampil di Jakarta Pop Alternative Festival.

Bagaimana pengalaman saat tampil di Jakarta Pop Alternative?
Richard : Memang itu salah satu pencapaian Pas band di Jakarta Pop Alternative, maksudnya bisa sepanggung dengan Beastie Boys, Foo Fighters. Di mana ternyata Foo Fighter yang pada saat itu baru satu album, masih artis baru.

Kalau album masih banyakan Pas band lah kasarnya. Waktu itu Pas band udah dua album, dia baru satu album tapi sekarang sudah jadi superstar, bandnya sukses berat.

Kalau secara teknis, pengalaman, kayaknya semua anak Pas band pada saat itu baik pemain dan kru yang kebetulan terlibat sama Pas band waktu itu banyak banget pelajarannya karena kita melihat tiga band besar di mata kita pada saat itu adalah Beastie Boys, Sonic Youth, dan Foo Fighters di mana ketiga band itu karena kita lihat di backstage jadi kita lebih sering lihat kru mereka.

Kita melihat tiga tim kerja yang berbeda. Bandnya import tapi ternyata tiga-tiganya memiliki pakem kerja yang enggak seratus persen sama.

Kita melihat ada kru produksi band yang arogan, kru-nya ini arogan banget, maksudnya ngehe banget kalau kita ngomong di backstage kru siapa sih itu ngehe banget. Oh ini mungkin kru-nya Beastie Boys.

Ya mungkin nama band juga mempengaruhi karena Beastie Boys pada saat itu yang paling besar kayaknya mereka sangat nge-rules banget. Maksudnya semua id harus ditempelin stiker Beastie Boys, hal-hal kecil kayak yang kasih stiker kenapa Beastie Boys, bukan Sonic Youth, bukan Foo Fighter. Karena memang saat itu yang megang peran secara production kayaknya tim kerja dari Beastie Boys

Kita melihat how wise kru-krunya Sonic Youth, kan Thurstoon Moore gitarisnya itu gitarnya kayaknya paling banyak pada saat itu. Ternyata Thurstoon Moore satu lagu, satu gitar. Let's say kalau dia delapan lagu, delapan gitar berbeda karena tunning-nya berbeda.

Di situ kita melihat gila nih jadi kru Thurstoon Moore males banget ya. Nge-tune delapan gitar kalau sama enggak masalah, tapi ini beda-beda. Ya kita melihat itu.

Dan ke Foo Fighters pada saat itu mereka mungkin kalau anak band, baru ya jadi kesannya band baru, ngikut Sonic Youth, ngikut Beastie Boys. Jadi mereka benar-benar nongkrong di pinggir panggung pada saat Pas band itu hampir semua Foo Fighters nonton di pinggir panggung lihat kita, sampai Pat Smear gitarisnya yang sangat kemayu itu sampai histeris, kebayang band rock tapi gitu. Jadi kocak banget ya.

Sampai turun, nah Bengbeng dicegat tuh sama Pat Smear bilang "Your band so great". Sementara yang gue inget dicegat ngobrol hah heh hoh, masih capek ngomong bahasa Inggris masih yes, thank you aja.

Banyak lah, ya itu memang pencapaian sebuah memori yang indah dan kalau dibilang kebanggaan ya gue bangga banget karena memang tidak direncanakan sama sekali.

Tadinya ngebayangin kita satu backstage, ternyata enggak. Kita dipisah. Pasti kita enggak ketemu juga nih sama mereka, ternyata mereka yang nyamperin kita. Foo Fighters sih, mereka sampai masuk ke backstage kita. Kalau enggak salah ada beberapa foto Foo Fighters sama Pas band itu background-nya bus, itu bus Pas band kalau enggak salah.

Bagaimana awal mula bisa jadi salah satu line-up di Jakarta Pop Alternative?
Richard : Nah itu gue kurang ngerti politik di belakang itu istilahnya. Tapi kalau gue suudzon istilahnya mungkin karena waktu itu tagline mereka MTV Rock Alternative Nation Tour.

Bengbeng : Tadinya rock alternative cuma izinnya enggak keluar kalau ada rocknya.

Richard : Mereka itu tur secara Asia ya. Waktu tur Asia itu, globalnya namanya MTV Alternative Nation Tour Jakarta. Gue suudzon mereka mungkin MTV Indonesia atau MTV Singapura cari band yang bisa nyambung ke sana. Band rock alternatif yang bisa masuk. Mungkin pada saat itu karena ada klip "Impresi", mereka mungkin boleh nih. Gue kurang ngerti pemilihannya kenapa Pas band, kenapa Nugie, kenapa Netral.

Bagaimana suasana konser saat itu?
Richard : Pokoknya kita tuh ngalamin maksudnya si Pas band karena kan kita merasa harus siap-siap, merasa harus prepare dengan baik. Jadi kita soundcheck, kita bawa drum sendiri segala. Pada saat tour manager ketiga band itu masuk, dia bilang karena gue bawa drum sendiri, dia tunjuk ini drum siapa. Oh ini drum Pas band. Terus ini ada drum yang dipakai Netral dan Nugie.

Dia bilang satu drum aja. Band Indonesia satu drum aja, sharing. Waktu itu EO-nya menyampaikan enggak boleh bawa drum sendiri, cuma penyampaiannya rada salah ya gitu. Wah enggak boleh bawa drum sendiri nih. Sebenarnya bukan enggak boleh bawa sendiri, maksudnya satu drum aja.

Bengbeng : Enggak boleh pakai wireless juga.

Richard : Waktu itu masih zaman analog, ampli gitar masih oke enggak masalah. Wireless kena juga kalau enggak salah. Band lokal enggak boleh pakai wireless. Waktu itu Bengbeng sama Trisno pakai wireless, jadi enggak boleh pakai wireless.

Terus sebelum disuruh sharing satu drum untuk tiga band, pada saat ke Pas lu bisa enggak setting drum lima menit. Kita coba dong. Kita bisa setting drum lima menit. Tapi entah tiba-tiba mereka ngobrol lagi kayaknya enggak, tetap satu drum.

Jadi proses untuk menuju satu drum sharing itu berbelit-belit istilahnya. Jadi buat kesel, maksudnya kalau mau to the point enggak boleh, ya enggak boleh aja. Padahal kita enggak mungkin enggak main juga, pasti pengin main. Cuma ya itulah hal-hal seperti itu yang bikin kesel.

Terus mereka mulai bagiin stiker Beastie Boys. Kru lu ada berapa. Pokoknya sama dia di limit tiap band, kan ada Nugie, Netral, Pas band. Dia yang nentuin kru lu di panggung cuma segini dan yang jaga pintu di tangga itu gede banget bawaan dari MTV.

Segala security di panggung berapa. Jadi benar-benar sama dia istilahnya dibersihin lah. Mungkin standarnya mereka. Cuma waktu itu Indonesia punya habbit yang security backstage 10, security panggung 10. Banyak kok pelajarannya walaupun beberapa poin penyampaiannya ngehe. Tapi itu kepakai sampai sekarang pelajarannya buat EO dan Java Musikindo udah tau flow-nya begini.

Itu juga yang pengaruhi Pas band tampil habis-habisan?
Richard : Itu mungkin nempelnya ke Yukie kan. Yukie paling tidak terganggu dalam artian vokal. Maksudnya enggak masalah dengan drum. Mau pakai drum yang mana gue tetap nyanyi, mau pakai wireless atau kabel gue tetep nyanyi.

Tapi Yukie kan menerima, melihat suasana. Akhirnya ternyata yang paling meledak Yukie di panggung. Maksudnya dengan kata-kata karena dia pegang mic, kalau gue marah enggak bisa karena main drum. Jadi marahnya gue pukul aja drum kenceng.

Kalau Yukie dengan pegang mic akhirnya dia keluar lah kata-kata kekesalannya. Salah satunya yang paling beken pada saat itu adalah "kita sudah merdeka tapi masih dijajah", "sekali terjajah tetap terjajah", gue inget banget dia bilang itu. Maksudnya itu dalam konteks kita masih dijajah dalam urusan band, ngurus panggung ternyata masih diatur sama orang lain istilahnya.

Suasana sempat rusuh saat Pas band main?
Richard : Bukan rusuh sih. Sebenarnya enggak ada yang rusuh karena kalau buat penonton pada saat itu enggak banyak, enggak full setahu gue karena gue masih bisa jalan-jalan sampai ke mixer di belakang FOH itu kosong dan arealnya kan cukup luas ya.

Sebenarnya yang keselnya itu, gue juga enggak tahu kenapa penonton kayaknya enggak suka aja sama Nugie. Gue enggak ngerti kenapa. Maksudnya kita Pas band sama Nugie itu kan satu label jadi kenal baik. Tapi entah kenapa penonton pada saat itu kurang menerima Nugie. Enggak tahu kenapa gue enggak ngerti ceritanya.

Tapi kalau rusuh, enggak rusuh ya. Malah penontonnya fashionable banget sampai Kim Gordon bassis Sonic Youth muji beberapa penonton "i like your style", ada satu dia nunjuk penonton, dandannya emang keren. Senang sih asik. Cuma kekurangan kita pada saat itu dokumentasi doang.

Enggak sempet dokumentasi?
Richard : Kita bawa handycam waktu itu, ada yang rekam, ada yang nge-shoot tapi enggak beberapa lama handycam dan isi tasnya hilang di bandara. Jadi hilang lah footage itu.

Bengbeng : Hilang waktu main di Medan.

Richard. Pokoknya hilang satu tas handycam. Kan satu tas handycam biasanya ada handycam, baterai dan beberapa kaset yang sudah isi dan baru. Nah hilang semua tuh dokumentasi.

Waktu tampil apa yang paling dikenang?
Yukie : Enggak banyak juga yang dikenang, banyakan lupa malah. Yang pasti senang aja. Backstage yang ramai, kemudian pelajaran berharga, kru pada belajar, kita juga belajar bagaimana mendisplinkan panggung, rundown, dan sebagainya.

Terus kemudian, melihat persiapan. Sampai party-nya repot banget. Itu Richard badannya udah gede gitu enggak bisa pulang sendiri hahaha. Mesti pindahin dia badan segede gitu, badan saya kecil.

Kenangan masa muda kita dulu. Itu menyenangkan, semuanya menyenangkan. Sesudahnya semuanya main-main lagi. Pada hari itu memang semuanya meledak karena memang stressing kerja, stressing jadwal, kemudian bule-bule yang overprotektif kepada band mereka, kepada barang produksi mereka. Jadinya mereka protektif sampai ke sound-sound kita juga ditahan. Untung kita punya orang sound yang agak gila jadi didobrak sound-nya.

Sekarang sih menjadi kenangan yang indah. Memang betul enggak ada dokumentasi dan ternyata Pas band ini udah begitu kodratnya. Setiap kali ada acara besar, di Busan, Korea juga datanya hilang, kameranya hilang, jadi selalu begitu. Jadi memang Pas band ini enggak boleh terkenal oleh Allah. Dijaga oleh Allah supaya niat main musiknya tulus jadi enggak dikasih benar-benar beken gitu. Malah acara spektakuler yang bisa mengantarkan terlalu beken ditahan oleh Allah hahahaha.

Bengbeng : Bener. Takut khilaf semuanya.

Richard : Makanya udah pas aja, cukup.

Penampilan Pas band dapat pujian dari Dave Grohl?
Bengbeng : Enggak tahu, gue enggak ngerti bahasa Inggris hahaha.

Waktu itu saya sama Richard berbarengan turun, nah dari bawah ternyata Dave Grohl sama Pat Smear naik juga kan. Jadi searah kan. Dave Grohl ke Richard, Pat Smear ke saya.

Dari jauh udah aduh. Kan tahu dia (Pat Smear) flamboyan. Jadi bener aja sampai dia memeluk. Gue cuma aduh hahaha.

Gue tahan juga takut cinta sama dia hahaha. Dia banyak bertanya alat juga, pakai efek apa seperti itulah. Hanya itu aja enggak banyak.

Bagaimana cerita saat after party Jakarta Pop Alternative?
Richard : Kalau party-nya anak Beastie Boys paling kampungan sih. Kita kan buat party-nya waktu itu di rumah mas Adrie Subono. Rumahnya mas Adrie kan gokil yah, istana lah. Ya kita mah nongkrong di pinggir kolam, ngebir, ngerokok, itu Beastie Boys lari-larian di rumah Adrie Subono, tiba-tiba nongol di lantai dua buka jendela "hey man", tiba-tiba ngilang lagi buka jendela di lantai tiga.

Ini kampungan banget. Ya mungkin mereka merasa superstar, wah ini rumahnya bagus. Waktu nongkrong itu kita sama Bagus Netral, sama ada Iwa K. Kita akhirnya ngobrolin ini anak Beastie ternyata kampungan juga ya lihat rumah begini, benar-benar di oprek semua. Mereka masuk ke kamar mandinya rumah mas Adrie Subono, yang bukan berasa kamar mandi lah. Tapi mereka itu keluar "guys you see that bathroom".

Bengbeng : Bukan kampungan, mereka ekspresif aja. Kalau kita kan malu-malu mau ngakuinnya. Wah rumah segede gini hahaha. Iyalah cuma mereka kan enggak ada malunya. Kalau kita enggak.

Pewarta: Yogi Rachman

Editor : Abdul Hakim Muhiddin


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Timur 2020