Puluhan guru dan murid dari berbagai SMP dan SMA di Balikpapan ambil bagian dalam kelas daring (online) yang diselenggarakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Balikpapan di Festival Celengan Rupiah akhir pekan lalu.
 

“Kelas-kelas itu kami manfaatkan untuk menyebarkan informasi tentang peran dan tugas BI, edukasi uang rupiah, dan Gerakan Nasional Non Tunai,” tutur Manajer Tim Advisory dan Pengembangan Ekonomi BI Balikpapan Nyi Mas Mirnayanti, Minggu.

Dimulai pada Jumat 18 September 2020, peserta kelas daring mendapat materi kebanksentralan yang dibawakan Asisten Analis BI Balikpapan Erdi Fiat Gumilang. Oleh Erdi disampaikan peran dan tugas-tugas Bank Indonesia selaku Bank Sentral di Indonesia.

Hari berikutnya, Sabtu 19 September, Tim Pengelolaan Uang Rupiah yang menugaskan Herman Kurniawan dan Arizona Fratama memaparkan ciri-ciri keaslian uang rupiah (CIKUR).

“Kami juga sampaikan bagaimana cara memperlakukan uang rupiah dengan benar,” kata Herman Kurniawan.

Untuk mengetahui keaslian uang rupiah dikenalkan metode yang disebut Dilihat, Diraba, Diterawang atau 3D. Uang kertas rupiah asli bila diterawang akan terlihat bayangan benang pengaman di dalamnya, bila diraba di sudut akan teraba tanda khusus, yang juga akan terlihat jelas dan bila dilihat secara seksama, terutama di bawah lampu berwarna violet.

“Uang kertas juga juga 5 Jangan, yaitu jangan dilipat, jangan dicoreti, jangan dibasahi, jangan diremas, dan jangan di-stapler atau diceklik,” kata Herman lagi.

Dengan memperlakukan uang kertas rupiah mengikuti 5 Jangan itu, maka akan membantu negara menghemat biaya pencetakan uang atau pengadaan uang yang jumlahnya mencapai Rp3,5 triliun per tahun.

Materi GNNT dipaparkan oleh Asisten Analis Dickky Lendra Sunardi. Masih ada hubungannya dengan penghematan pencetakan uang, GNNT adalah gerakan yang dimotori BI agar masyarakat terbiasa menggunakan transaksi non tunai seperti membayar dengan transfer langsung dari rekening dengan berbagai cara atau menggunakan saldo uang elektronik, juga dengan berbagai cara.

Kelas daring Bank Indonesia Balikpapan di Festival Celengan Rupiah. (istimewa)

“Seperti menggunakan kartu debit, juga uang elektronik, dan QRIS atau QR Code, kode khusus bagi barang atau jasa dalam transaksi non tunai di Indonesia,” jelas Dickky.

Untuk memudahkan peserta memahami dan membuat presentasi lebih menarik,  para penyaji dilengkapi dengan video yang memberi gambaran dari apa yang disampaikannya, dan berinteraksi dengan hadirin melalui kuis.

“Pengetahuan 3D uang rupiah itu sangat bermanfaat, kita jadi tahu bagaimana cara mengenali uang rupiah yang asli,” kata Lidya, siswi SMPN 3 Balikpapan. 

 

Pewarta: Novi Abdi

Editor : Rahmad


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Timur 2020