Pemerintah Kota Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim) menjawab program hilirisasi kelapa sawit yang sejak lama digaungkan oleh pemda, yakni melalui skema investment project ready to offer (IPRO) berupa industri turunan minyak kelapa sawit yang kaya nitrogen (fatty amine) senilai Rp1,88 triliun.
Penyusunan dokumen paket proyek investasi lengkap, teruji, dan siap ditawarkan ke investor atau IPRO dilakukan karena melimpahnya produksi tanda buah segar sawit di sekitar Bontang, sementara secara infrastruktur kota ini sudah siap.
"Proyek ini akan mampu memperluas rantai pasok pengolahan kelapa sawit secara masif, sekaligus menjadi jawaban konkret untuk mengurangi ketergantungan impor bahan kimia industri dalam negeri," ujar Kepala Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Bontang, Muhammad Aspian Nur di Bontang, Kamis.
Ia menyebut bahwa industri fatti amine direncanakan berdiri di kawasan Kaltim Industrial Estate (KIE) Bontang. Kawasan ini dipilih karena memiliki keunggulan geopolitik dan logistik yang sudah matang.
Lokasinya berdekatan dengan pelabuhan utama dan kawasan industri yang sudah berjalan, didukung penuh oleh infrastruktur energi andalan Bontang, serta berada di wilayah yang dekat dengan produsen amonia dan raksasa petrokimia.
Baca juga: Kutim hilirisasi sawit untuk ketahanan energi nasional
"Provinsi Kaltim sebagai salah satu lumbung kelapa sawit terbesar di Indonesia juga menjamin keberlanjutan pasokan bahan baku secara jangka panjang," katanya menambahkan.
Fatti amine, lanjut ia, merupakan produk turunan kelapa sawit bernilai tambah tinggi yang menjadi bahan baku utama consumer goods mulai dari pelembut pakaian, deterjen, kosmetik, hingga produk pembersih rumah tangga.
Aspian menjelaskan bahwa hingga saat ini kebutuhan fatti amine domestik masih sangat bergantung pada pasokan impor, sementara ceruk pasar global untuk komoditas ini memiliki peluang besar terus berkembang.
"Pada tahun 2022 saja, permintaan dunia menembus 1,7 juta ton dan diprediksi terus meroket hingga tahun 2029 dengan rata-rata pertumbuhan tahunan (CAGR) sebesar 6,6 persen," katanya.
Bagi para calon investor, proyek yang dirancang memiliki kapasitas produksi fatti amine sebesar 20 ribu ton dan gliserol 4 ribu ton per tahun ini, menawarkan indikator keuangan yang sangat sehat dan menjanjikan.
"Bukan hanya mengejar profitabilitas, proyek ini juga dirancang sebagai pionir industri masa depan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Kawasan pabrik nantinya akan dilengkapi dengan area terbuka hijau, pemanfaatan panel surya, penerapan green architecture, serta sistem smart building," ujar Aspian.
Baca juga: Strategi konservasi dongkrak laba perusahaan sawit Kaltim capai Rp442 miliar
Editor : Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Timur 2026