"Program penyebaran ternak dan biogas di PPU sejak 2009 hingga 2012, untuk bibit sapi telah kami sebar sebanyak 1.056 ekor, sedangkan untuk pengadaan perangkat biogas disebar sebanyak 24 unit," ujar Kepala Dinas Peternakan Provinsi Kaltim, H Ibrahim di Samarinda, Selasa.
Selain sapi dan program biogas, lanjutnya, Pemprov Kaltim juga telah menyebarkan bibit ternak kerbau sebanyak 49 ekor, termasuk penyebaran bibit unggas 840 ekor dengan harapan agar ternak di kabupaten tersebut terus berkembang karena para penerima bibit juga mendapat pembinaan.
Penyebaran unit biogas dan bibit ternak tersebut dananya bersumber dari dua mata anggaran, yang dari pemerintah pusat melalu Anggaran Pendapapatan dan Belanja Negara (APBN) dan dari Pemprov Kaltim melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.
Rinciannya adalah dari APBN untuk pengadaan sapi sebanyak 353 ekor, kemudian 32 ekor kerbau, 840 ekor unggas, dan dua unit biogas.
Sedangkan dana yang dari APBD Kaltim untuk pembelian atau pengadaan sapi sebanyak 703 ekor, kerbau 17 ekor, dan pengadaan perangkat biogas sebanyak 22 unit.
Menurutnya, 24 unit biogas yang ada di PPU tersebut telah tersebar di beberapa desa. Penyebaran peralatan biogas dimaksudkan sebagai percontohan agar warga sekitarnya yang masih berada di desa itu dapat meniru kegiatannya.
Jika sudah banyak warga yang menggunakan biogas dengan memanfaatkan kotoran hewan untuk kebutuhan rumah tangga seperti memasak nasi, menggoreng, bahkan untuk lampu penerangan, maka warga dapat menghemat energi dan hemat biaya.
Hingga kini di PPU memang belum ada desa yang dijadikan sebagai desa percontohan atau desa mandiri pemanfaatan biogas berbahan bakar kohe, pasalnya sebagian besar warga desa belum memanfaatkannya. Namun ke depan dia akan berupaya agar warga desa sadar dengan manfaat yang diperoleh dari kohe.
Semetara di seluruh Kaltim, lanjutnya, saat ini terdapat empat desa yang dijadikan percontohan karena telah menjadi desa mandiri berbahan bakar kohe, yakni Desa Paser Belengkong di Kabupaten Paser, Desa Loa Kulu di Kabupaten Kukar, Desa Panca Agung di Kabupaten Bulungan, dan Desa Tidung Pala di Kabupaten Tana Tidung.
Semua desa yang sudah ditetapkan menjadi desa mandiri berbahan bakar kohe itu, merupakan desa yang menjadi sentra peternakan sapi, yakni hampir semua masyarakat di desanya memiliki peternakan sapi.
Pencanangan desa mandiri berbahan bakar kohe sebagai upaya meningkatkan kemandirian masyarakat, terutama terhadap pemenuhan kebutuhan energi di perdesaan, sehingga warga desa tidak perlu membeli minyak gas atau LPG karena telah memanfaatkan kohe.
Jika semakin banyak sapi dan kerbau yang dipelihara masyarakat perdesaan, maka secara perlahan pula desa-desa tersebut akan mampu mencukupi kebutuhan energi dari kohe, yakni kohe untuk biogas maupun untuk pupuk kandang.
Menurut dia, dalam satu keluarga hanya dengan memelihara tiga ekor sapi, maka sudah bisa mencukupi kebutuhan gas rumah tangga melalui biogas yang bisa dimanfaatkan selama tujuh jam, baik untuk memasak di dapur maupun untuk penerangan rumah.
Pemanfaatan kohe sebagai penerangan, saat ini baru digunakan untuk menyalakan lampu minyak petromak atau lampu stromking, namun ke depan diharapkan bisa untuk lampu listrik.
Pewarta: M. Ghofar: Amirullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.