Tenggarong (ANTARA News Kaltim) - Setelah prosesi Mendirikan Ayu digelar oleh Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura sebagai tanda berlangsungnya pesta adat Erau (1/7), kemudian pada pukul 16.00 wita kesultanan kembali menggelar Upacara Beluluh.

Jika beberapa waktu lalu Beluluh Sultan Kutai Kartanegara ing Martadipura H Aji Muhammad Salehuddin II dilakukan di Kedaton, namun kali ini upacara Beluluh digelar di teras Keraton atau  Museum Mulawarman.  

Ritual ini digelar setiap pukul 16.00 Wita di teras Museum Mulawarman  selama Erau berlangsung. Upacara ini menghadirkan seorang Dewa dan Belian  sebagai pembaca mantra didampingi para Pangkon Laki dan Pangkon Bini yang masing-masing membawa benda pusaka terbuat dari perak.

Saat prosesi dilakukan, Sultan HAM Salehuddin II duduk di atas balai bambu dengan beralaskan tikar dari rotan dan dihiasi dengan beras warna warni membentuk  reaplika sepasang naga  yang disebut Tambak Karang .

Selama prosesi Beluluh, sesekali kain kuning yang dijadikan atapnya atau disebut Kirab Tuhing diangkat untuk menutupi kepala Sultan , dimana empat sisinya dipegang anak atau cucu Sultan.

Selama prosesi Beluluh sang Dewa dan Belian membacakan sejumlah mantra dan doa agar Sultan diberikan keselamatan dan diberikan kesucian diri dari Tuhan Yang Maha Esa,  dengan  sesekali menghamburkan beras kuning kearah kiri kanan Sultan.

Kemudian proses dilanjutkan oleh Dewa Bini yaitu dengan mengacungkan selembar daun mirip ilalang yang di terus dipanaskan asap pedupaan dan membasahi kedua telapak tangan Sultan dengan Air Tuli yang berasal dari Kutai Lama (Anggana) sebagai tanda Sultan ditepong tawari, kemudian Sultan membasahi kedua kelopak matanya dengan air dengan menggunakan sebuah logam yang berbentuk bundar seperti mata uang.

Menurut Seksi Adat Luar Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Awang Imaluddin upacara ini diakhiri dengan menarik anyaman daun nyiur muda yang disebut Ketikai Lepas oleh Sultan bersama Dewa Belian untuk dibuang ke belakang. Sedangkan beras warna warni yang menghiasi tikar bambu kemudian diperebutkan oleh pengunjung yang menyaksikan upacara tersebut.

"Membuang Ketikai Lepas bermakna  membuang jikalau ada segala unsur kurang baik yang ada dalam diri Sultan," ujar awang. (*)



Pewarta: Hayru Abdi
Editor : Arief Mujayatno

COPYRIGHT © ANTARA 2026