"Sumur bor ini untuk pasokan air bersih, karena di Berbas Pantai layanan air PDAM setempat sering macet," kata Zain Taufik Nurrohman, Kamis (10/5), saat menjelaskan hasil resesnya.
Menurut Ketua Fraksi Partai Amanat Nasional (FPAN) yang duduk di Komisi IV ini, selain meminta dibantu sumur bor, warga Berbas Pantai yang umumnya bekerja sebagai nelayan juga mengharapkan bantuan pemerintah berupa kapal penangkap ikan dan mesinnya, alat produksi berupa jaring dan keramba apung serta tali, pelampung dan benih rumput laut.
Masyarakat juga mengharapkan adanya penanaman kembali mangrove di pesisir Bontang yang kondisinya rusak.
"Perbaikan hutan mangrove ini diharapkan mampu meningkatkan hasil tangkapan ikan nelayan, karena hutan bakau merupakan tempat ikan-ikan bertelur," politisi yang dilahirkan dari keluarga transmigran ini.
Sedangkan di Kelurahan Gunung Elay, Kecamatan Bontang Utara, warga memohon bantuan pembangunan pasar seni dan wisata kuliner di wilayah mereka yang lahannya telah siap.
Warga Gunung Elay juga mengusulkan agar di daerah mereka dilakukan penanaman mangrove yang banyak rusak dan menyebabkan abrasi.
Sementara di Desa Lok Tunggul Sekambing, Kecamatan Bontang Selatan, warga meminta bantuan mesin parut kelapa untuk produksi minyak goreng.
"Minyak goreng produksi Lok Tunggul telah dipasarkan hingga keluar kota Bontang, namun permintaan pasar tidak dapat dipenuhi maksimal karena produksi masih terbatas," kata wakil rakyat yang berlatar belakang aktivis HMI itu.
Warga Lok Tunggul juga mengharapkan diadakan pelatihan kemasan produksi (packing) dan pemasaran hasil industri rumahan (home industry) mereka.
Mereka juga mengharapkan adanya penanaman dan pemeliharan mangrove serta bantuan tali, pelampung dan bibit rumput laut.
"Ketika bertemu dengan warga Perum Bukit Indah Tanjung Laut, Kecamatan Bontang Selatan, mereka meminta bantuan sosial maupun hibah untuk majelis taklim," kata wakil rakyat yang gemar membaca novel itu.
Selanjutnya warga RT 14 Sidrap Dalam, Desa Martadinata, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Kutai Timur memohon bantuan pembangunan jalan desa sepanjang kurang lebih empat kilometer untuk transportasi hasil bumi. Kondisi jalan saat ini masih tanah.
Mereka juga mengharapkan bantuan pembangunan sumur bor, karena pasokan air bersih sangat bergantung pada instalasi air bersih PT PKT dan air hujan.
"Mereka meminta pula diperjuangkan agar proses pelepasan kawasan (enclave) Taman Nasional Kutai segera tuntas. Demikian pula persoalan perbatasan Bontang–Kutim, agar segera diselesaikan. Masyarakat Martadinata berharap bisa bergabung dengan Bontang karena pertimbangan jarak," kata politisi yang rajin mendatangi para petani dan nelayan itu.
Di RT 5 Dusun Temputu, Desa Martadinata, Kecamatan Teluk Pandan, Kutim, masyarakat mengharapkan bantuan pembangunan jalan produksi tani, bantuan pembangunan sumur bor untuk pengadaan air bersih dan bantuan sarana produksi (Saprodi) untuk kelompok tani.
Sedangkan di RT 5 Dusun Hulu, Kecamatan Teluk Pandan, Kutim, warga mengharapkan bantuan Saprodi pertanian berupa obat – obatan (pestisida/ insektisida/herbisida), bantuan traktor tangan (hand tractor) untuk peningkatan produktifitas pertanian dan harapan agar enclave Taman Nasional Kutai bisa diselesaikan segera.
Sementara di RT 7 Dusun Sendawar, Desa Singageweh, Kecamatan Sangatta Selatan, Kutim, sebagai salah satu dusun pemasok kebutuhan pangan di Kutai Timur, untuk meningkatan produktifitas pertanian, warga setempat meminta bantuan traktor tangan, Saprodi, pembangunan jalan usaha tani Dusun Sendawar dan penyediaan tenaga Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) untuk peningkatan pengetahuan petani.
"Seterusnya, ketika saya bertemu masyarakat RT 3 Dusun Sendawar, Desa Singageweh, Sangatta Selatan mereka memohon bantuan pemerintah untuk pembangunan Masjid Nurul Huda dan Ponpes Darul Sholeh," kata Zain Taufik.
Masyarakat Kecamatan Kaubun, Kutim, mengharapkan bantuan pembangunan ruas jalan Kaubun-Simpang Empat Kaliorang–Sangkulirang–Sangatta dan bantuan pembangunan ruas jalan Sangatta–Sangkulirang.
Sedangkan di Tanjung Redeb, Kabupaten Berau, masyarakat setempat meminta diperjuangkan dana pembangunan kampus Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Muhammadiyah (STIEM) oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Pemprov tahun 2006 pernah membantu Rp 1,5 miliar, namun kemudian berhenti.
Akibat pembangunan mandek, struktur yang ada hampir rusak. Pengurus berharap pembangunan gedung kampus dapat dilanjutkan kembali, sehingga STIEM sebagai satu satunya perguruan tinggi ekonomi di Kabupaten Berau mempunyai kampus yang bisa dibanggakan masyarakat.
Selain itu, masyarakat juga memohon bantuan incenerator untuk seluruh Puskesmas 24 Jam yang ada di Kabupaten Berau.
"Di Kecamatan Talisayan, Berau, warga mengharapkan bantuan pembangunan jalan Tumaring – Lenggok (jalur Provinsi) sepanjang kurang lebih 15 Kilometer dan penerangan poros jalan Tumaring sepanjang kurang lebih 1, 5 Kilometer. Warga juga mengharapkan Perda yang sedang dibahas DPRD provinsi jangan hanya melarang angkutan batubara dan sawit, tapi juga logging seperti oleh PT Kiani Kertas di Berau," kata Zain Taufik.
Terhadap aspirasi-aspirasi masyarakat tersebut, Zain Taufik Nurrohman berjanji memperjuangkan maksimal agar dapat dianggarkan pada perubahan APBD 2012 atau APBD murni 2013. Sedangkan yang menjadi kewenangan kabupaten/kota akan dikoordinasikan dengan pemerintah daerah setempat. (Hums DPRD Kaltim)
Editor : Arief Mujayatno
COPYRIGHT © ANTARA 2026