Samarinda (ANTARA News Kaltim) - Rumah Tahanan (Rutan) Samarinda meskipun mengalami hambatan serius dalam melakukan berbagai program bagi warga binaan (Napi) akibat kelebihan kapasitas akan tetapi mengukir prestasi membanggakan, yakni juara empat terbaik nasional dalam menjalankan program Paket A, B dan C.
   
"Kami masih membutuhkan dukungan daerah, khususnya dalam mengatasi persoalan kelebihan kapaitas. Meskipun status kami adalah vertikal (di bawah Kementerian Hukum dan HAM) namun butuh perhatian Pemda untuk membangun blok baru, apalagi warga binaan (narapidana) kita bukan orang pusat tetapi orang daerah," kata Kepala Rutan Kelas IIA Sempaja Samarinda, H. Ismil di Samarinda, Jumat.
   
Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIA Sempaja Samarinda meskipun mengalami hambatan serius dalam melakukan berbagai program bagi warga binaan (Napi) akibat kelebihan kapasitas, yakni daya tampung 255 orang namun dihuni 736 orang.
   
"Khusus warga binaan untuk wanita, harusnya hanya 30 orang namun kelebihan karena sekarang sekitar 70-an orang," katanya.
   
Ia menjelaskan bahwa dari sisi HAM hal itu jelas sebuah pelanggaran sehingga ia sangat mengharapkan agar daerah bisa membantu pihaknya menuntaskan hal tersebut.
   
Ia mengakui bahwa memang daerah ada juga memberikan bantuan, khususnya bagi program pendidikan bagi warga binaan.
   
"Pada 2011 ini, kami mendapat penghargaan dari pusat karena berhasil meraih juara empat nasional dalam program  Paket A. B dan C. Bapak Wali Kota Shaharie Jaang memberikan apresiasi terhadap keberhasilan ini dan kami mendapat ribuan buku bacaan bermanfaat dari Dinas Pendidikan Samarinda," katanya.
   
Selain itu, setiap jumat ada warga binaan yang khatam Al Quran karena pihak rutin menggelar pengajian di Musola Rutan Sempaja.
   
"Melalui program Paket A, B dan C serta pengajian ini, maka tidak ada lagi warga binaan yang buta huruf kecuali yang baru masuk," katanya.
   
Mengenai upaya pemberantasan peredaran Narkoba, ia menjelaskan bahwa pihaknya rutin melakukan razia serta tes urine yang melibatkan Badan Narkotika Nasional (BNN).
   
"Hasil tes urine memang ada lima orang yang terindikasi pada 2010 namun mereka limpahan dari kepolisian dalam kasus Narkoba, mengingat gejala tersebut tidak langsung hilang," ujarnya menambahkan.
   
Di tengah masalah kelebihan kapasitas itu, Rutan Samarinda juga berhasil menjalankan program pemberian bekal ketrampilan untuk pembuatan mebel dan perbengkelan.
   
"Selain itu, kami juga membuka tempat internet di Rutan, tentu dengan pengawasan ketat dalam pemanfaatannya. Kita harapkan melalui berbagai program ini, warga binaan dapat menjadi orang bermanfaat ketika kembali ke tengah masyarakat," ujarnya.


Editor : Arief Mujayatno

COPYRIGHT © ANTARA 2026