Bontang (ANTARA News - Kaltim) - Di Bontang Kaltim memiliki musim ikan bawis atau kebanjiran ikan bawis tiap tanggal 10,11,12 kalender Hijriah atau kalender rembulan, sehingga berpengaruh meningkatnya pendapatan bagi nelayan atau masa panen nelayan.

“Dari 17 nelayan binaan saya, jika pas tanggal bulan tepatnya tanggal 10 hingga 12 perharinya tiap nelayan akan membawa pulang ikan bawis sekitar dua kwintal berasal dari plat yang mereka pasang untuk menjaring ikan.  Dan terpaksa saya awetkan sampai seminggu,” kata seorang pengepul ikan di TPI Bontang, Iskandar, Kamis.

Namun jika hari-hari biasa jumlah ikan yang dibawa pulang nelayan hanya dalam hitungan kilogram atau jika diuangkan bervariasi antara 25 ribu rupiah hingga 100 ribu rupiah.  Padahal sekali melaut biaya bahan bakar minyak mencapai 25 ribu rupiah belum termasuk bekal makanan dan rokok.

Hal ini dikarenakan, ikan yang diperoleh campuran, ada cumi, kerapu, kakap, lore, pare, layang, ikan batu dll. Di TPI Tanjung Limau Bontang, ada dua pengepul ikan dengan binaan nelayan 32 orang.

Mucim paceklik bagi nelayan bermodal kecil juga terjadi pada bulan September hingga Desember karena pasokan ikan dari daerah lain di Kaltim seperti Samarinda dan Sangkulirang Sanggata Kutim.

Para pengepul memiliki toleransi tinggi terhadap nelayan, kadang memberi pinjaman dulu untuk keperluan pembelian alat tangkap ikan, kapal ketinting maupun kapal dumping.

“Tiap hari kami mencatat perolehan ikan dari para nelayan, dan rata-rata keesokan harinya nelayan baru ambil uangnya,” timpal pengepul lainnya, Hendra yang memiliki langganan pedagang ikan di Rawa Indah.

Tempat pendaratan ikan di Bontang ada beberapa, pelabuhan Tanjung Laut Indah, pelabuhan Loktuan dengan jumlah nelayan mencapai 100 orang.

Para pengepul dan nelayan sejak beberapa tahun terakhir merasa terbantu dengan dibangunnya TPI Tanjung Limau oleh pemerintah kota, lengkap dengan SPBN yang melayani kebutuhan solar dan bensin bagi nelayan.  Apalagi Bontang adalah daerah pesisir yang luas wilayahnya 70 persen adalah lautan, dan 30 persen sisanya berupa daratan.


: Iskandar Zulkarnaen

COPYRIGHT © ANTARA 2026