Samarinda (ANTARA News - Kaltim) - Pihak DPRD Kalimantan Timur mengimbau agar warga di provinsi berpenduduk sekitar 3,2 juta jiwa itu bisa memanfaatkan fungsi pengawasan dari jejaring sosial, khususnya terkait kebijakan, program maupun kegiatan pembangunan.
 
 "Dampak negatif dari jejaring sosial ini lebih gencar diberitakan, padahal manfaat positif sebagai salah satu media pengawasan harus dioptimalkan warga dalam mendukung berbagai program melalui kontrol sosial," kata anggota Komisi Bidang Pemerintahan dan Hukum DPRD Kaltim Suwandi di Samarinda, Sabtu. 
 
 Ia menambahkan bahwa berbagai jenis jejaring sosial ini sebaiknya jangan hanya menjadi media sosialisasi antar individu, namun lebih dari itu, sebagai sarana aktualisasi kontrol karena jumlah penggunanya semakin banyak.
     
 Pengguna media "online" jejaring sosial seperti facebook, Balckberry Mesenger dan lainnya yang akhir-akhir ini semakin marak dinilai memiliki beberapa sisi positif, di antaranya mampu menjadi kontrol sosial efektif.
       
 Teknologi Informatika (TI) berupa media online jejaring sosial, imbuh dia merupakan sebuah kemajuan yang harus dimanfaatkan sepositif mungkin agar TI benar-benar bisa terasa sisi positifnya. 
       
 Suwandi juga berpendapat selama ini yang terbaca, di media online terutama jejaring sosial lebih terkesan pada hal-hal yang berunsur negatif dan membahayakan, terutama pada pengguna usia muda.
       
 "Saya pikir munculnya jejaring sosial ini merupakan kemajuan yang bagus, bahkan media ini sudah membantu banyak pengawasan terhadap pelayanan publik, seperti kasus rumah sakit yang pernah mencuat beberapa waktu lalu," katanya.
       
 Ia mencontohkan tentang kasus Prita dengan rumah sakit menjadi begitu heboh serta banyak mendapat perhatian publik maupun simpati masyarakat karena keberadaan jejaring sosial.
       
 Gugatan rumah sakit itu berawal dari pasien (Prita) menceritakan kekecewaannya terhadap pelayanan rumah sakit tersebut  kepada teman-temannya melalui surat elektronik (email).
       
 "Hingga akhirnya, masyarakat informasi yang disebut juga pengguna media online seperti jejaring social, banyak memberikan dukungan kepada pasien yang digugat dengan bermacam-macam komentar melalui facebook," katanya.
       
 Bahkan, dukungan yang awalnya hanya melalui situs jejaring sosial, justru berkembang ke aksi nyata berupa demo mendukung Prita dan pengumpulan koin untuk Prita. Aksi mengumpulkan uang koin ini sebagai tanda menolak lemahnya penegakan hukum di Indonesia.
       
 Dalam kisah ini, lanjutnya, masyarakat bisa berfikir tentang apa yang terjadi di sekitarnya. Sesuatu yang tidak adil menimpa pasien, kemudian serempak muncul berbagai komentar  yang dituliskan di jejaring sosial dan bisa dibaca banyak pengguna.
       
 "Dari kasus ini bisa diambil kesimpulan bahwa media online bisa menjadi kontrol berpengaruh besar. Kita harapkan pengguna jejaring sosial juga bisa berfikir cerdas dalam menghadapi berbagai masalah sehingga keberadaan TI lebih bermanfaat," kata Suwandi lagi. 


Editor : Iskandar Zulkarnaen

COPYRIGHT © ANTARA 2026