Pancasila merupakan bintang penuntun bagi kehidupan berbangsa. Hingga kini Pancasila telah membuktikan ketangguhan dalam mempersatukan beragam warna kehidupan
Tenggarong, Kaltim (ANTARA) - Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) Sunggono menyebut bahwa Pancasila selama ini mampu menjadi bintang penuntun bagi 633 etnis dan sekitar 17.000 pulau di Indonesia, sehingga persatuan dan kesatuan tetap tercipta meski berbeda adat maupun budaya.
"Pancasila merupakan bintang penuntun bagi kehidupan berbangsa. Hingga kini Pancasila telah membuktikan ketangguhan dalam mempersatukan beragam warna kehidupan," ujar Sekda Sunggono saat Peringatan Hari Lahir Pancasila 2026 di halaman Kantor Bupati Kukar di Tenggarong, Kalimantan Timur (Kaltim), Senin.
.
Saat membacakan sambutan tertulis Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Republik Indonesia Yudian Wahyudi, Sunggono menyebut di tengah ancaman fragmentasi, Indonesia tetap berdiri kokoh sebagai contoh bagaimana keberagaman lebih dari 17.000 pulau dan beragam etnik dapat disatukan dalam ikatan kebangsaan.
Mengusung tema “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia”, ia menyatakan upacara peringatan tersebut untuk memaknai nilai-nilai luhur Pancasila yang tidak hanya relevan untuk menjaga keutuhan bangsa, tetapi juga menjadi landasan bagi terciptanya perdamaian dunia.
Yudian menegaskan Peringatan Hari Lahir Pancasila juga merupakan momentum refleksi untuk memastikan agar api Pancasila tetap menyala dalam jiwa setiap warga negara.
Pancasila juga berfungsi sebagai jangkar moral untuk menghadapi berbagai dinamika yang terjadi dari zaman ke zaman, mulai dari disrupsi teknologi hingga tantangan geopolitik.
"Peran Indonesia di kancah internasional sesuai amanat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yakni ikut mewujudkan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial," katanya.
Dalam hal ini Pancasila menjadi dasar bagi kebijakan luar negeri Indonesia yang bebas aktif, sementara nilai musyawarah dan mufakat menjadi instrumen diplomasi penting untuk menjembatani perbedaan dan meredam konflik.
Untuk itu ia mengajak seluruh elemen bangsa, khususnya generasi muda, untuk menjadikan Pancasila sebagai ideologi yang hidup, sehingga tiap nilai yang terkandung tidak sekadar menjadi hiasan dinding kantor atau teks sejarah, melainkan diwujudkan dalam sikap dan tindakan sehari-hari.
Pewarta: M.GhofarEditor : Rahmad
COPYRIGHT © ANTARA 2026