Samarinda (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan tanaman kedemba atau kratom (Mitragyna speciosa) sebagai komoditas ekspor unggulan baru di bidang pertanian dan kehutanan.
"Langkah ini merupakan bagian dari strategi diversifikasi ekonomi nonmigas berbasis sumber daya alam yang berkelanjutan," kata Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji, saat menerima audiensi PT Borneo Riseta Naturafarm dan PT DJB Botanicals Indonesia di Samarinda, Selasa.
Wagub menegaskan komitmen pemerintah dalam mengawal hilirisasi tanaman yang dijuluki "Emas Hijau Kalimantan" tersebut.
Ia menegaskan akan menindaklanjuti rencana pengembangan kratom dengan melibatkan pemangku kepentingan yang lebih luas, mulai dari Dinas Kehutanan, Tim Ahli Gubernur, hingga instansi vertikal terkait. Fokus utamanya adalah menyusun langkah strategis dan penguatan aspek regulasi.
"Pemprov Kaltim serius mendukung hilirisasi kratom. Kami siap terlibat aktif, termasuk memberikan dukungan pendanaan untuk memastikan komoditas ini memberikan nilai tambah maksimal bagi daerah," tegas Seno Aji.
Sebagai bentuk keseriusan, Wagub berencana melakukan kunjungan lapangan ke fasilitas produksi dan laboratorium di L3 Tenggarong Seberang dalam waktu dekat.
"Saya ingin melihat langsung kesiapan industrinya sebelum kita melangkah lebih jauh," imbuhnya.
Baca juga: Dua komoditas udang jadi andalan ekspor Kaltim
Dalam audiensi tersebut, Dr. Islamudin Ahmad dari PT Borneo Riseta Naturafarm memaparkan "Peta Jalan Transformasi Kratom". Ia menjelaskan tanaman endemik yang dikenal warga lokal sebagai kedemba ini memiliki nilai ekonomi fantastis jika dikelola melalui proses industri yang tepat.
Berdasarkan riset, penjualan daun segar hanya menghasilkan Rp80–Rp120 juta per hektare per tahun. Namun melalui hilirisasi menjadi produk ekstrak berkadar tinggi, nilai ekonominya bisa melonjak drastis hingga Rp2,3 miliar sampai Rp5,7 miliar per hektare per tahun.
"Hilirisasi adalah kunci. Dengan mengubah bahan mentah menjadi ekstrak terstandar atau produk farmasi, nilai ekonominya bisa meningkat ribuan kali lipat. Ini adalah peluang nyata yang didukung validasi ilmiah dan regulasi ekspor yang sah," jelas Islamudin.
Dari sisi industri, Haris Wafa dari PT DJB Botanicals Indonesia mengungkapkan bahwa Indonesia saat ini memasok lebih dari 80 persen kebutuhan kratom dunia.
Permintaan utama berasal dari Amerika Serikat dan Eropa untuk industri herbal, serta India dan Thailand untuk ekstraksi bahan alam.
PT DJB Botanicals sendiri telah menjadi pionir eksportir kratom di Kaltim sejak 2019 dan telah mengantongi izin ekspor dari Kementerian Perdagangan.
Saat ini, fasilitas produksi mereka di Kutai Kartanegara memiliki kapasitas mesin grinder mill 1 ton per hari dan disk mill 8 ton per hari.
Baca juga: Prabowo minta pengusaha batu bara dan CPO fokuskan pasar domestik
"Kami didukung jaringan pasokan yang luas mencakup Kutai Kartanegara, Kutai Barat, Kutai Timur, Penajam Paser Utara, Paser, hingga Kalimantan Selatan," kata Haris.
Ia menegaskan ke depan, para pelaku industri mendorong terciptanya East Borneo Botanicals Corridor. Konsep ini merupakan kolaborasi regional di wilayah timur Kalimantan untuk mengoptimalkan potensi komoditas botani endemik secara terintegrasi.
Selain kratom, diversifikasi produk juga diarahkan pada tanaman lokal lainnya seperti tahongai (Kleinhovia hospita), Nuciferine, Arecoline, hingga bawang Dayak. Pemerintah Provinsi diharapkan segera melakukan pemetaan potensi serupa guna memperkuat posisi Kalimantan Timur dalam pasar botani global.
Pewarta: ArumantoEditor : Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2026