Pengendalian inflasi terus diperkuat melalui sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dengan implementasi strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif

Samarinda (ANTARA) - Bank Indonesia Kalimantan Timur (BI Kaltim) menyebut bahwa keberhasilan provinsi dalam menahan laju inflasi, salah satunya berkat gencarnya operasi pasar sampai lebih 200 kali sejak memasuki Ramadhan pada Februari lalu hingga April 2026.

"Pengendalian inflasi terus diperkuat melalui sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dengan implementasi strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif," ujar Kepala BI Kaltim Jajang Hermawan di Samarinda, Selasa.

Dari sisi keterjangkauan harga, lanjut Jajang yang juga Wakil Ketua I TPID Kaltim ini, sampai dengan April 2026 TPID Kaltim melaksanakan lebih dari 200 kegiatan gerakan pangan murah atau operasi pasar, sebagai upaya menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat tetap terjangkau.

Kemudian dari sisi ketersediaan pasokan, TPID Kaltim bersama kabupaten/kota mendorong penguatan pemantauan stok, kesiapan pasokan komoditas strategis, termasuk melalui koordinasi dengan instansi teknis, BUMD pangan, dan pelaku usaha agar pasokan tetap memadai.

Dari sisi kelancaran distribusi, TPID terus memperkuat pengawalan distribusi antarwilayah, memperhatikan kelancaran rantai pasok, serta mengantisipasi potensi gangguan logistik yang dapat menimbulkan disparitas harga, khususnya untuk komoditas pangan segar.

Sedangkan pada aspek komunikasi efektif, TPID bersama pihak terkait terus memperkuat koordinasi secara rutin, penguatan strategi pemenuhan pasokan komoditas melalui pengembangan Program MANDAU Kaltim, sebagai dukungan dalam peringatan dini kewaspadaan gejolak pangan, hingga percepatan tindak lanjut kebijakan di daerah.

Berkat penerapan strategi ini, maka inflasi Kaltim pada April 2026 tetap terjaga dengan tekanan harga yang menurun seusai Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), ditunjukkan dengan inflasi 0,11 persen (mtm), lebih rendah ketimbang realisasi bulan sebelumnya yang sebesar 0,73 persen.

"Secara umum, tekanan inflasi April 2026 terutama disumbangkan oleh kelompok transportasi, seiring penyesuaian harga pada biaya pemeliharaan dan tarif angkutan udara, sejalan dengan penyesuaian harga kelompok BBM (nonsubsidi dan avtur), termasuk kebutuhan peremajaan angkutan setelah mudik Lebaran," katanya.

Selanjutnya, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga turut menyumbang inflasi, terutama dipengaruhi kenaikan harga bahan bakar rumah tangga LPG 3 kg.

Kondisi ini mencerminkan proses normalisasi aktivitas ekonomi pasca-HBKN, seiring mobilitas masyarakat dan kebutuhan layanan transportasi masih relatif tinggi, sementara penyesuaian harga energi turut mempengaruhi biaya operasional.

"Namun tekanan inflasi tertahan oleh deflasi pada komponen 'volatile foods' yang minus 0,47 persen (mtm), mencerminkan mulai meredanya tekanan harga pangan setelah HBKN seiring membaiknya pasokan dan kewajaran permintaan komoditas bahan pokok," ujar Jajang.



Pewarta: M.Ghofar
Editor : Rahmad

COPYRIGHT © ANTARA 2026