Sangatta, Kaltim (ANTARA) - Perusahaan Umum Daerah Air Minum Tirta Tuah Benua Kutai Timur (Perumdam TTB Kutim), Kalimantan Timur berupaya memastikan pasokan air tetap terjaga dalam menghadapi El Nino ekstrem yang diperkirakan terjadi pada Mei hingga Oktober tahun ini.

Untuk itu, langkah mitigasi pun dilakukan guna memastikan pasokan air bersih tetap terjaga meski kemarau, salah satunya dengan memaksimalkan seluruh pompa yang tersedia, termasuk melakukan perbaikan stang valve agar aliran air menuju intake dapat berjalan optimal.   

"Kami telah menetapkan status siaga dalam menghadapi fenomena iklim El Nino ekstrem yang diprediksi hingga Oktober 2026. Langkah ini diambil sebagai respons atas ancaman kemarau panjang yang berpotensi mengurangi ketersediaan sumber air baku," ujar Direktur Utama Perumdam TTB Kutim, Suparjan di Sangatta, Kamis.

Ia mengatakan saat ini terdapat tiga unit pompa di intake baru sudah beroperasi. Masing-masing memiliki daya 56 kW dan difungsikan untuk meningkatkan kapasitas pengambilan air baku.

Selain itu, kondisi intake lama juga mulai menunjukkan perkembangan positif. Berdasarkan pemantauan kemarin, elevasi air mengalami kenaikan sehingga pompa berdaya 56 kW di lokasi tersebut kembali dapat dioperasikan untuk memperkuat pasokan.

"Melalui optimalisasi tersebut, maka total debit air yang dihasilkan kini mencapai 339 liter per detik, meningkat signifikan ketimbang sebelumnya yang hanya 185 liter per detik," katanya.

Ia berharap peningkatan debit ini terus bertahan dan mengikuti siklus pasang surut. Jika pola tersebut mampu bertahan selama 4 hingga 5 jam per hari, maka peluang menambah pasokan air akan semakin besar.  

Ia menjelaskan, strategi mitigasi yang diterapkan saat ini juga mencakup kemampuan membaca pola pasang surut air, sehingga memungkinkan tim teknis menentukan waktu yang tepat untuk memaksimalkan penyedotan air maupun mengurangi laju operasi.  

Menghadapi kemarau yang diperkirakan panjang ini, Perumdam TTB Kutim pun menetapkan tiga pilar mitigasi, yakni optimalisasi produksi dengan memaksimalkan infrastruktur untuk menjaga tekanan distribusi meski sumber air menurun.

Kemudian respons cepat kebocoran melalui peningkatan pengawasan jaringan pipa guna menekan kehilangan air, dan sinergi operasional dengan memperkuat koordinasi antarcabang dan antar-unit kerja.  

 



Pewarta: M.Ghofar
Editor : Rahmad

COPYRIGHT © ANTARA 2026