"Terbanyak penderita gizi buruk yang dirawat di RSUD AW. Sjahranie yakni pada April 2009 mencapai lima orang," kata pejabat Humas RSUD AW. Sjahranie Samarinda, dr. Nurliana Adriati Noor di Samarinda, Kamis.
Masalah gizi buruk bisa mencerminkan derajat kesehatan masyarakat, bahkan indentik dengan negara-negara miskin.
Pada Pemerintahan Orde Baru, kasus gizi buruk nyaris tidak terjadi, hal itu diperkirakan karena berbagai program kesejahteraan keluarga (KS) yang ditangani oleh BKKBN berjalan baik, misalnya Posyandu serta berbagai program sosial melalui Dinas Sosial.
Program tersebut kemudian mengalami hambatan bersamaan dilikuidasinya BKKBN dan Dinas Sosial pada masa Pemerintahan Presiden KH. Abdurrahman Wahid.
Pada Januari 2009, jumlah penderiya gizi buruk yang dirawat hanya satu orang begitu pula pada Februari.
Namun, penderita gizi buruk meningkat pada Maret yakni tiga orang dan puncaknya pada April mencapai lima orang penderita.
"Dua bulan berturut-turut mulai Mei dan Juni tidak ada pasien penderita gizi buruk yang dirawat namun pada Juli dua anak yang dirawat akibat gizi buruk dan Agustus dan September masing-masing satu orang," katanya.
Periode Oktober hingga Nopember 2009, juga tidak ada penderita gizi buruk yang dirawat di RSUD AW.Sjahrania dan Syafa inilah sebagai penderita yang dirawat pada Desember.
Dirawat
Rumah Sakit Umum Daerah RSUD) AW. Sjahranie Samarinda (Kalimantan Timur) kini tengah merawat seorang bayi penderi gizi buruk.
"Bayi itu pertama masuk ke rumah sakit pada Selasa (22/12) dengan keluhan awal karena batuk. Namun, kami curiga setelah melihat kondisi tubuh dengan usia yang tidak seimbang," katanya..
Bayi tersebut berusia tiga bulan namun beratnya hanya 3,4 kilogram. Padahal, untuk bayi seusia idealnya lima kilogram.
Setelah menjalani diagnosa, rumah sakit akhirnya memastikan, bayi yang diberi nama Syafa tersebut divonis menderita gizi buruk.
"Dari serangkaian pemeriksaan yang dilakukan, termasuk hasil laboratorium kami akhirnya menyimpulkan anak itu menderita gizi buruk sehingga kami langsung melakukan penanganan khusus," kata Nurliana Adriati Noor.
Anak keenam pasangan Eman dan Wati yang menjalani perawatan di ruang Melati RSUD AW. Sjahranie Samarinda, terlahir dalam kondisi normal dengan berat badan 3,6 kilogram.
"Sebenarnya, anak ini lahir dalam kondisi normal dengan berat badan 3,6 kilogram. Namun karena tidak mendapat asupan ASI sejak lahir dan kemungkinan susu yang diberikan tidak sesuai takaran, membuat anak tersebut kekurangan air," ujar dia.
Setelah menjalani perawatan selama dua hari, berat badan bayi tersebut akhirnya naik hingga satu ons.
"Kami berharap, kondisinya terus membaik dan selama dua hari berat badanya naik menjadi 3,5 kilogram. Sebenarnya, kedua orang tua anak itu telah meminta pulang dan akan merawat anaknya di rumah, tetapi kami (rumah sakit) melarang sebab masih perlu penanganan khusus dari dokter," ungkap Nurliana Adrati Noor.
Sementara, Wati, sang ibu mengaku tidak mengetahui kalau anaknya menderita gizi buruk.
"Kondisi badannya mulai menurun sejak usia dua bulan namun awalnya saya tidak tahu kalau Syafa menderita gizi buruk. Kami tahu setelah dibawa ke puskesmas dan dokter menyarankan agar segera dibawa ke rumah sakit," ungkap Wati
Sejak anak keenamnya itu lahir kata warga Jalan S. Parman Samarinda tersebut memang dia tidak pernah memberinya asupan ASI.
"Saya terpaksa memberinya susu kaleng karena tidak bisa menyusui. Bapaknya hanya sebagai buruh sebuah kapal sehingga kami hanya memberinya susu biasa walaupun saya beri empat kali sehari, tetapi takarannya saya kurangi untuk menghemat," ujar Wati.
Editor : Iskandar Zulkarnaen
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.