Samarinda (ANTARA) - Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Kalimantan Timur membentuk satuan tugas khusus guna mengawal kepatuhan perusahaan dalam membayarkan tunjangan hari raya (THR) tahun 2026.

"Kami segera mengaktifkan Posko Satgas Ketenagakerjaan di tingkat provinsi hingga kabupaten/kota paling lambat Rabu (4/3/2026) untuk melayani konsultasi sekaligus penegakan hukum terkait hak THR pekerja," ujar Kepala Bidang Hubungan Industrial (HI) Disnakertrans Kaltim Arismunandar di Samarinda, Selasa.

Dia menegaskan bahwa pembayaran THR wajib diselesaikan oleh pihak perusahaan paling lambat tujuh hari sebelum perayaan hari besar keagamaan.

Lanjut Aris, hak pekerja tersebut mutlak harus diberikan dalam bentuk uang tunai sesuai besaran gaji pokok bulanan bagi pekerja yang sudah bekerja di atas satu tahun, bukan ditukar dalam wujud parsel.

Para pekerja maupun pihak perusahaan didorong untuk memanfaatkan layanan posko tersebut guna berkonsultasi sebelum mendekati tanggal jatuh tempo pembayaran THR pada pertengahan Maret mendatang.

Terhadap perusahaan skala menengah ke atas yang terbukti sengaja menunda atau terlambat membayar THR, pemerintah dipastikan akan menjatuhkan sanksi.

Baca juga: THR tidak boleh dicicil, paling lambat H-7 lebaran

"Dana denda dari sanksi tersebut nantinya dikembalikan pemanfaatannya untuk kepentingan buruh di perusahaan bersangkutan tanpa mengurangi besaran pokok THR yang menjadi hak mereka," papar Aris.

Sementara itu, terkait pemberian bonus hari raya (BHR) bagi para pengemudi ojek dalam jaringan (ojol), Disnakertrans Kaltim masih menunggu arahan resmi dari Menteri Ketenagakerjaan.

Berdasarkan evaluasi tahun lalu, Disnakertrans Kaltim menerima sekitar 30 aduan yang mayoritas didominasi oleh kasus keterlambatan pembayaran dari pihak pemberi kerja.

"Masyarakat pekerja dapat melaporkan segala bentuk pelanggaran melalui berbagai saluran pengaduan THR resmi yang dibuka di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota," katanya.

Meski demikian, petugas pengawas kerap menghadapi kendala teknis dalam penindakan karena banyak pelapor yang menyamarkan identitas akibat takut menerima sanksi pemecatan dari perusahaan.

Penerapan aturan pembayaran THR pada sektor UMKM sejauh ini masih bersifat imbauan menyesuaikan dengan kontrak kerja masing-masing usaha.

Baca juga: Bonus hari raya "ojol" dijanjikan lebih baik tahun ini



Pewarta: Ahmad Rifandi
Editor : Imam Santoso

COPYRIGHT © ANTARA 2026