Samarinda (ANTARA) - Majelis Ulama Indonesia (MUI) berupaya menurunkan depresi masyarakat Kalimantan Timur (Kaltim) melalui pendekatan agama dan kekeluargaan, karena tingkat depresi di provinsi ini menempati urutan kedua secara nasional yakni sebesar 2,2 persen.
Hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada 2023 angka depresi secara nasional adalah 1,4 persen yang menggambarkan bahwa ada 1 dari 100 penduduk Indonesia berusia 15 tahun ke atas mengalami depresi.
"Ada beberapa pola yang akan kami terapkan untuk menurunkan depresi, antara lain dengan pendampingan dan pembinaan, pendekatan keagamaan, serta pendekatan keluarga," ujar Ketua Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga (PRK) MUI Kaltim Gina Saptiani di Samarinda, Kamis.
MUI Kaltim sebagai organisasi kemasyarakatan Islam yang mengayomi dan memayungi umat, kata dia, merasa prihatin dengan kondisi warga Kaltim yang ternyata masih banyak mengalami depresi.
"Saya ikut miris, ternyata di Kaltim jumlah orang depresi sangat tinggi, padahal Kaltim termasuk daerah kaya, ekonomi masyarakat tercukupi. Bahkan tingkat depresi Kaltim berada di posisi dua di Indonesia," katanya.
Terdapat 10 besar provinsi dengan tingkat depresi tinggi, yakni Jawa Barat urutan pertama dengan angka depresi 3,3 persen, Kaltim posisi kedua dengan angka 2,2 persen, Sulawesi Selatan dan Banten sama-sama 1,7 persen.
Kemudian Sulawesi Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan DKI Jakarta sama-sama 1,5 persen, Sulawesi Utara 1,4 persen, Nusa Tenggara Barat (NTB) 1,3 persen, dan Sumatera Utara (Sumut) dengan tingkat depresi 1,2 persen.
"Penduduk Kaltim mayoritas Islam, maka asumsi saya, mereka yang depresi kebanyakan adalah orang Islam, sehingga kami ingin melihat apa penyebabnya sekaligus ingin membantu memulihkan mereka," katanya.
Ia pun menyatakan siap membantu semua pihak dalam menanggulangi dan membantu menangani depresi di Kaltim, agar makin banyak warga yang hidup lebih bahagia.
Sementara Kabid Pelayanan Medis RSJD AHM Kaltim Dini Andriyanti mengatakan salah satu tugas pihaknya adalah diagnosis, perawatan, dan rehabilitasi pasien dengan gangguan mental, untuk mencapai kesejahteraan psikologis pasien.
Dini menyebut penyebab depresi antara lain masalah ekonomi, gagal menikah, pikiran buntu namun tidak ada tempat curhat. Bahkan banyak laki-laki usia produktif stres karena masalah yang dipendam dan gengsi berbagi dengan orang lain.
"Saya gembira karena MUI datang dan ingin membantu menangani depresi. Semoga ke depan ada kerja sama berkelanjutan, karena semakin banyak pihak yang terlibat, maka makin cepat penanganannya," ujar Dini.
