Kerja sama perlu dilakukan dengan berbagai pihak agar program populasi sebanyak dua juta ekor sapi dapat tercapai, mulai kerja sama dengan pemerintah kabupaten maupun kota, perusahaan swasta, hingga dengan pemerintah pusat,"Samarinda (ANTARA Kaltim) - Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak mengatakan perlu mengintensifkan kerja sama dengan berbagai pihak dalam upaya mewujudkan program dua juta ekor sapi pada 2018, sehingga daerah itu mampu menjadi produsen daging sapi.
"Kerja sama perlu dilakukan dengan berbagai pihak agar program populasi sebanyak dua juta ekor sapi dapat tercapai, mulai kerja sama dengan pemerintah kabupaten maupun kota, perusahaan swasta, hingga dengan pemerintah pusat," ujar gubernur di Samarinda, Minggu.
Bentuk kerja sama di samping untuk dukungan masalah pendanaan, hal lain yang penting adalah kebijakan untuk mempermudah investor dalam memperoleh kemudahan berinvestasi di subsektor peternakan.
Gubernur mengaku masih merasakan betapa sulitnya dalam koordinasi dengan kabupaten dan kota, sehingga kerap kali laju kedatangan investor untuk menanamkan modalnya di daerah-daerah di Kaltim justru menjadi terhambat karena kurangnya perhatian dari daerah.
"Kesulitan bagi investor dalam memperoleh lahan untuk lokasi usaha justru berasal dari kabupaten atau kota. Pernah ada investor perlu lahan 500 hektare untuk usaha peternakan, tetapi kesulitannya izin lahan dari kabupaten tidak kunjung terbit, bahkan hingga bertahun-tahun izin itu tidak juga pernah terbit," kata Awang Faroek dengan nada mengeluh.
Padahal, jika kabupaten atau kota sudah mengeluarkan izin untuk usaha peternakan, maka sudah sejak dulu Kaltim mampu swasembada daging sapi, tetapi karena kondisinya begitu, maka kabupaten dan kota perlu lebih terbuka agar daerah mampu swasembada pangan, baik pangan asal tanaman padi maupun pangan asal peternakan dan perikanan.
Gubernur juga meminta perusahaan sawit dan perusahaan tambang melakukan integrasi dengan ternak sapi, sehingga program dua juta ekor sapi pada 2018 dapat dicapai.
Integrasi sapi dengan sawit sama-sama menguntungkan, seperti pada kelapa sawit yang usianya sudah mampu dilakukan integrasi, maka kotoran sapi bisa menjadi pupuk bagi sawit, sedangkan sapi bisa memakan rumput dan limbah pohon sawit.
Sedangkan integrasi sapi dengan lahan eks-tambang batu bara, dapat dilakukan pada lahan yang sudah ditinggalkan setelah ditambang, sehingga lahan yang masih menjadi milik perusahaan dan menjadi lahan tidur dapat dimanfaatkan peternak untuk menggembalakan sapi.
Untuk itu, Awang Faroek meminta kepada instansi terkait agar tidak memberikan izin perpanjangan pada perkebunan sawit dan pertambangan, jika mereka tidak memiliki komitmen melakukan integrasi sapi sawit maupun integrasi sapi eks-tambang.
"Saya minta agar jangan sampai ada pelayanan administrasi jika belum ada penandatanganan kesepakatan soal integrasi sapi dengan sawit maupun dengan lahan eks-tambang. Akan ada harapan terhadap sukses program dua juta ekor sapi jika ditempuh dengan cara setengah memaksa," katanya. (*)
Pewarta: M GhofarEditor : Amirullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.