Samarinda (ANTARA) - Meski mentari belum tinggi, kehangatan khas Desa Bukit Raya, Tenggarong Seberang, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, mulai terasa pagi itu.
Rumah Anak SIGAP dipenuhi tawa anak-anak dan obrolan ringan para orang tua. Sebagian besar yang hadir adalah ibu muda dan beberapa nenek, ada pula yang menggendong bayi sambil mendampingi anak mereka yang lebih besar.
Di tengah pemandangan yang sudah biasa ini, ada satu sosok menonjol, Akhmad, seorang ayah yang mendampingi putranya yang berusia tiga tahun, Syafiq. Kehadirannya membawa warna tersendiri di sesi belajar hari itu, yang biasanya didominasi oleh ibu-ibu.
"Biasanya ibunya Syafiq yang mengantar, tetapi hari ini saya yang punya waktu. Kalau ibunya tidak bisa, saya harus ambil peran, saya percaya, mendampingi anak bukan cuma tugas ibu. Saya juga ingin terlibat dalam tumbuh kembang Syafiq," kata Akhmad.
Aktivitas hari itu sederhana namun penuh makna, anak-anak diajak menyusun menata dari gelas plastik warna-warni, sebuah kegiatan yang dirancang untuk melatih motorik halus, fokus, dan pengenalan warna serta bentuk.
Para fasilitator Rumah Anak SIGAP dengan sabar membimbing anak-anak dan mengajak orangtua untuk turut serta, menciptakan suasana hangat yang mendukung keterlibatan semua pihak.
Syafiq duduk bersila di samping ayahnya, tangannya yang kecil dengan hati-hati menyusun gelas, sementara Akhmad memberi arahan dan memuji hasil kerja anaknya.
(Ahkmad menemani anaknya, Syafiq mendapat stimulasi di Rumah Anak SIGAP ANTARA/ HO- Tanoto Foundation)Antusiasme Syafiq terlihat jelas saat ia berusaha membangun menara yang lebih tinggi, dengan kepercayaan diri yang terus bertambah.
"Awalnya agak kaku juga, harus berbaur dengan orangtua lain di sini, apalagi kebanyakan ibu-ibu, tapi melihat Syafiq senang, saya jadi nyaman juga," ujarnya.
Keterlibatan aktif Akhmad mencerminkan perubahan pandangan masyarakat terhadap peran pengasuhan, terutama di momen spesial seperti Hari Anak.
Ia tidak hanya hadir sebagai pengantar, tetapi juga sebagai bagian dari proses belajar bersama anaknya.
Bagi Akhmad, Rumah Anak SIGAP bukan sekadar tempat bermain atau belajar bagi Syafiq, melainkan ruang untuk tumbuh bersama sebagai keluarga.
"Program di sini cukup bagus menurut saya,” ujar Akhmad sambil memperhatikan Syafiq menunjukkan hasil susunannya.
“Syafiq jadi lebih cepat tanggap. Dia sekarang mengenal warna-warna dan mulai berani menyebutkan nama warnanya sendiri. Dulu dia cenderung pasif, tapi sekarang lebih ekspresif,” ungkapnya.
Selain membantu perkembangan keterampilan, kegiatan ini juga memperkuat ikatan emosional antara orangtua dan anak.
Di tengah kesibukan kerja sehari-hari, momen sederhana seperti ini, duduk bersama, bermain, dan belajar, menjadi sangat berharga bagi Akhmad.
Saat Hari Anak mengingatkan kita untuk mengutamakan kesejahteraan dan perkembangan anak-anak, kisah Akhmad menyoroti peran ayah yang semakin aktif dalam pengasuhan.
Rumah Anak SIGAP menjadi teladan untuk pengasuhan yang inklusif, menunjukkan bahwa setiap orang tua, tanpa memandang gender, memiliki peran penting dalam membentuk masa depan anak.
Bagi Akhmad dan Syafiq, momen belajar dan kebersamaan ini adalah perayaan masa anak-anak dan keluarga, hari ini dan seterusnya.
