Samarinda (ANTARA) - Rumah Anak SIGAP di Ponoragan, Tenggarong, Kalimantan Timur, berhasil menjadi ruang aman dan ramah anak yang mendukung tumbuh kembang anak secara holistik.
Rumah Anak SIGAP ini didirikan sebagai bagian dari inisiatif berbasis komunitas yang diinisiasi oleh Tanoto Foundation dan Pemerintah Tenggarong untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan orang tua dalam mengasuh dan memberikan stimulasi pada anak usia 0-3 tahun.
Dalam perjalanannya, anak-anak datang bukan hanya untuk belajar, tetapi juga untuk merasakan ruang aman dan penuh kasih di luar rumah. Anak-anak diberi stimulasi dalam kegiatan edukatif, kreatif, dan emosional seperti kelas menggambar, bermain peran, hingga diskusi ringan yang mendorong kepercayaan diri dan nilai-nilai kebersamaan.
Tempat ini menjadi ruang di mana anak-anak merasa dihargai, didengarkan, dan bebas berekspresi.
“Ini adalah cara kami menanamkan nilai, bahwa anak-anak berhak atas lingkungan yang mendukung mereka untuk tumbuh secara aman dan nyaman,” ujar Hernawati, Koordinator Rumah Anak Sigap Ponoragan.
Ia menuturkan bahwa banyak anak yang datang ke sana bukan hanya untuk kegiatan belajar mengajar, tetapi untuk mencari pelukan hangat dari suasana yang penuh penerimaan.
Hak Anak Dimulai dari Rasa Aman
“Kita harus menghargai hak-hak anak, untuk bisa tumbuh dan berkembang dengan rasa aman dan nyaman,” lanjutnya dengan tegas.
Bagi Hernawati, ruang aman bagi anak merupakan fondasi penting bagi tumbuh kembang anak.
“Kadang hal yang paling dibutuhkan anak bukan soal kurikulum atau prestasi, tetapi rasa aman. Itu yang kami coba hadirkan dulu, baru setelah itu anak bisa berkembang,” jelasnya.
Dukungan dari Pemerintah Desa Kegiatan belajar mengajar di Rumah Anak SIGAP merupakan bagian dari upaya bersama untuk menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan mendukung bagi tumbuh kembang anak-anak di Desa Ponoragan.
Melalui pendekatan yang menyenangkan dan edukatif, anak-anak diajak untuk mengenal nilai-nilai dasar seperti saling menghargai, menjaga kebersihan, serta pentingnya belajar dan bermain secara seimbang.
Rumah Anak SIGAP tidak hanya menjadi ruang belajar alternatif, tetapi juga menjadi simbol komitmen desa dalam mendukung perlindungan dan pemenuhan hak anak.
Pemerintah desa turut berkontribusi terhadap keberlangsungan kegiatan ini, karena menyadari bahwa investasi terbaik bagi masa depan desa adalah dengan memastikan anak-anak mendapatkan perlindungan serta pendidikan sejak usia dini.
Kegiatan bertema perlindungan anak ini mendapat perhatian khusus dari pemerintah desa. Kepala Desa Ponoragan, Sarmin. Ia menyampaikan komitmennya untuk mendukung inisiatif-inisiatif lokal yang menaruh perhatian pada hak anak.
“Anak-anak adalah masa depan desa ini. Tugas kita adalah memastikan mereka mendapat perlindungan, pendidikan, dan kasih sayang yang layak,” ujar Sarmin.
Ia menambahkan bahwa program seperti Rumah Anak SIGAP sejalan dengan visi desa untuk membangun masyarakat yang inklusif dan ramah anak.
“Kami ingin desa ini menjadi tempat yang tidak hanya aman secara fisik, tetapi juga nyaman secara emosional bagi anak-anak untuk tumbuh dan berkembang. Apalagi, posyandu di sini terintegrasi, sehingga warga bisa mendapatkan layanan secara menyeluruh,” katanya.
“Kita ingin menciptakan budaya yang melihat anak sebagai subjek pembangunan, bukan hanya objek perlindungan,” ujar Bu Hernawati.
Semangat itu terpancar dari wajah para fasilitator di Rumah Anak SIGAP, para orang tua yang mulai terlibat aktif, hingga kepala desa yang bersedia terjun langsung mendampingi kegiatan.
Dalam ruang sederhana tercipta harapan baru, bahwa masa depan anak-anak Indonesia tidak hanya dibentuk oleh kebijakan besar, tetapi juga oleh tangan-tangan kecil yang bekerja dengan hati.
Karena sejatinya, setiap hari adalah Hari Anak, bukan hanya soal peringatan, tapi tentang tindakan nyata. Di Desa Ponoragan, semangat itu hidup dalam keseharian: anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang mendukung, didampingi oleh mereka yang peduli.
Rumah Anak SIGAP bukan sekadar tempat belajar dan bermain, tapi simbol komitmen bahwa menjaga masa depan anak tidak perlu menunggu momentum nasional. Cukup dimulai dari satu desa, satu komunitas, dan hati yang sungguh-sungguh ingin mendengar. (Adv)
Pewarta: M.GhofarEditor : Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2026