Samarinda (ANTARA Kaltim) - Kepala Dinas Peternakan Provinsi Kaltim Dadang Sudarya mengatakan bahwa pola integrasi sapi-sawit di provinsi itu sudah berjalan cukup lama meskipun belum dilakukan perjanjian secara resmi oleh pemerintah dengan swasta.

"Meskipun secara resmi belum ada pola kerjasama pengembangan ternak melalui integrasi sapi-sawit, atau ternak digembalakan di perkebunan sawit, tetapi peternak bersama pekebun sudah sejak beberapa tahun lalu melakukan karena keduanya saling diuntungkan," kata Dadang Sudarya di Samarinda, Sabtu.

Salah satu daerah yang paling menonjol dalam pengembangan dengan pola integrasi sapi-sawit adalah Kabupaten Paser, sehingga kabupaten yang dipimpin oleh Bupati Ridwan Suwidi itu mendapatkan penghargaan berupa Panji Keberhasilan dari Gubernur Kaltim selama empat tahun berturut-turut sejak 2010 hingga 2013.

Menurutnya, integrasi sapi-sawit adalah menggembalakan sapi di areal perkebunan kelapa sawit, sehingga produksi sapi dan kelapa sawit ditingkatkan, yakni sapi bisa gemuk dan sawit bisa subur sehingga tandan buah segarnya lebih banyak dan berisi.

Hal ini dapat terwujud karena limbah kelapa sawit dapat diolah menjadi pakan ternak sapi, sedangkan kotoran sapi mampu menjadi pupuk kompos untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah di lahan sawit.

Berdasarkan hal tersebut, maka dia berharap kepada perusahaan perkebunan di kabupaten dan kota di Provinsi Kaltim agar tidak ragu melakukan integrasi sapi-sawit, pasalnya selain dapat memperbaiki struktur tanah menjadi lebih subur, sapi juga dapat menjadi angkutan TBS dari perkebunan ke jalan raya.

Menurutnya, pengembangan peternakan di Kabupaten Paser berjalan cukup baik setelah adanya integrasi sapi-sawit, sehingga bagi peternak dan pekebun yang belum melakukan integrasi tersebut dimintanya mencoba.

Dia juga mengatakan bahwa Panji Keberhasilan buah dari integrasi sapi-sawit tersebut hendaknya dijadikan motivasi bagi Dinas Peternakan dan Perkebunan di Kabupaten Paser, yakni agar terus melakukan peningkatan karena masih banyak potensi lahan perkebunan yang bisa dilakukan integrasi. (*)


Pewarta: M Ghofar
Editor : Arief Mujayatno

COPYRIGHT © ANTARA 2026